Anything For You

Hidup di antara orangtua yang baik dan menyayangi kita dengan sepenuh hati, adalah hal yang semua orang inginkan. Keluarga yang harmonis dan bahagia, tidak ada kekerasan dan kata kasar, itu yang diimpikan banyak orang.

Menjalani kehidupan keluarga yang normal adalah hal yang aku rasakan saat ini. Aku ingin terus merasakannya setiap hari. Semoga saja tidak ada hal buruk terjadi, menimpa keluargaku yang harmonis.

Aku Aleena, gadis berusia 16 tahun kelas 1 SMA swasta. Untuk nilai akademik di sekolah, aku terbilang biasa saja. Keberadaanku juga tidak begitu dikenal banyak orang. Namun walau begitu, ayah dan ibu tidak mempermasalahkannya. Menurut mereka, asal aku bahagia, itu sudah cukup. Untuk apa memaksa seorang anak untuk mengejar nilai dan berbagai prestasi jika pada akhirnya membuat sang anak menderita?

"Belajarlah yang rajin, tapi jangan terlalu khawatirkan soal nilai dan peringkat ya, Sayang. Itu hanya akan membuatmu sedih dan kami tidak ingin hal itu terjadi," ucap ibuku, enam bulan lalu saat aku mendapat peringkat 20 besar dan nilai yang sangat rendah.

Saat itu aku tak bisa berkata apapun. Aku memeluk ibu dan air mata mengalir deras. Selama kurang lebih 1 jam aku menangis, dan ibu tetap sabar menenangkanku.

Setelah itu, aku selalu mengingat nasihat ibu, untuk jangan terlalu keras pada diri sendiri perihal nilai.

Jika ibu adalah sosok malaikat yang selalu memberiku kebahagiaan lewat kasih sayang tiada batas, maka ayah adalah sosok pahlawan yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya dan membuat semua keinginanku terkabul. Apapun yang aku minta, ayah selalu mengabulkannya, cepat atau lambat. Untung saja keadaan ekonomi keluarga kami cukup baik, hingga ayah jarang merasa kesulitan untuk melakukan permohonanku. Saking seringnya permintaanku terkabulkan, mau tak mau aku harus membatasi hal itu, agar ayah tak perlu berusaha lebih keras.

Aku hanya ingin mereka berdua selalu ada di sisiku.

Aku bahagia, bahagia mempunyai orang tua yang sangat sayang padaku. Bahagia karena mempunyai keluarga yang normal dan harmonis.

Setidaknya, setiap pulang sekolah ... aku merasa aman


***


"Wah ... handphone ini bagus sekali. Password-nya apa, Aleena?"

"Jangan, Jane!"

"Oh ... kau berani membentakku? Kurang ajar!"

Jane membanting handphone ke lubang kloset dengan keras, membuat handphoneku jadi rusak dan basah, tak bisa digunakan lagi. Setelah itu dia menjambak rambutku dan menampar pipiku berkali-kali. Aku sudah biasa diperlakukan seperti ini.

Sejak awal bersekolah di sini, Jane sudah terlihat tidak menyukaiku. Orang-orang bilang, itu karena aku memiliki barang bagus dan menjadi siswa paling rajin di kelas. Jane teman sekelasku, membuatnya lebih leluasa menindas dan memperlakukanku seperti binatang. Sejujurnya aku tak tahan dan ingin sekali mengadukannya pada ayah dan ibu. Namun ... aku tak ingin melihat wajah bahagia mereka menjadi sedih saat melihatku.

"Sebenarnya apa salahku, Jane?" tanyaku parau. Tubuh semakin lemah, pasrah akan apapun yang akan Jane lakukan untukku.

Jane mencibir dan berkata, "aku muak melihatmu menjadi anak yang sok baik dan sok kaya. Menjijikan." Dia kembali menampar pipiku.


***


"Oh Tuhan! Aleena sayang, kamu kenapa!"

Ibu berlari panik dan memeriksa sekujur tubuhku. Aku tidak sempat merapikan seragam  dan menghapus luka saking brutalnya Jane hari ini. 

Mungkin ini saatnya aku menceritakan semuanya.

Aku memeluk ibu, menatap ke langit jingga tanda sore tiba. Aku bercerita dengan tangis menyertai, tentang Jane yang selalu menindasku selama satu semester ini. Ayah yang baru saja pulang dari kerja pun ikut panik melihat keadaanku. Aku terus bercerita tanpa henti, mengabaikan rasa khawatir yang mereka ungkapkan.

Selesai bercerita, ibu dan ayah memenangkanku dengan berbagai masakan yang jarang kami makan. Ayah bilang, aku bebas makan apapun malam ini. Tentu saja aku senang dan langsung melahap semua makanan yang ada.

Disela-sela makan, ayah menatapku dan berkata, "Aleena, apapun yang terjadi padamu, baik sedih atau senang, beritahu ayah dan ibu. Kami tak mau melihatmu menangis lagi seperti tadi. Keluarga itu, harus saling melindungi, 'kan?"

Aku mengangguk, ingin menjawab pun tak bisa karena mulut dipenuhi makanan.

Kami berdua makan malam dengan tenang hingga selesai. Setelah itu menonton televisi bersama hingga aku tertidur nyenyak.


***


Aku terbangun di atas kasur, dan langsung menduga kalau ayah atau ibu yang memindahkanku ke sini. Melihat jam dinding, sekarang pukul 7 pagi. Aku keluar kamar dan melihat ibu berjalan menuju dapur.

"Pagi, Aleena sayang. Mulai hari ini tidak akan ada yang mengganggumu lagi." Ibu tersenyum senang lalu kembali berjalan ke dapur.

Aku bingung. Apa maksudnya?

Menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Dan begitu aku sudah berpenampilan rapi, menuju ruang keluarga dan terlihat ayah sedang menonton berita.

"Pagi, Ayah," sapaku riang.

Ayah menoleh, lalu tertawa. "Pagi juga, Aleena. Sini duduk."

Aku duduk di sebelah ayah. Begitu duduk, reporter berita membawa berita baru.

"Seorang gadis berinisial J ditemukan tewas di depan rumahnya. Ditemukan luka gorok di leher dan tusukan tepat di jantung. Diduga korban dibunuh menggunakan pisau pada pukul 2 dini hari."

Aku terkejut. Itu Jane!

Walau wajah dan lukanya disensor, aku tetap mengenalnya.

Aku bergidik ketakutan. Siapa yang membunuh Jane?

Tak sengaja aku menatap sekilas punggung tangan ayah di sebelahku, dan terlihat bekas darah kering di sana.

Jantung berdegup kencang, tanpa sadar gemetar ketakutan.

Aku menoleh pada ayah, dan dia ternyata sudah menatapku terlebih dulu. Dia tersenyum dan berkata satu pertanyaan.

"Keluarga itu harus saling melindungi, bukan?"


TAMAT


Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang