Batik Salem di Tengah Tren Outfit Kalcer

Pernah tidak sih kita melihat anak muda yang lebih percaya diri memakai outfit kekinian dibanding memakai batik? Bagi sebagian orang, batik masih dianggap terlalu formal, terlihat tua, bahkan terkesan kuno. Ironisnya, banyak anak muda hafal berbagai tren fashion luar negeri, tetapi justru tidak mengenal batik dari daerahnya sendiri. Padahal, di balik setiap motifnya, batik menyimpan cerita, filosofi, dan warisan budaya yang sudah hidup sejak lama.

Foto diambil pada 8 Mei 2023

Salah satu batik yang memiliki cerita panjang berasal dari Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes. Batik Salem atau yang sering disebut Batik Brebesan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Salem, khususnya di Desa Bentar dan Bentarsari. Keberadaannya bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada tahun 2022.

Batik Salem sudah ada sejak sekitar tahun 1917 Masehi. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, awal mula batik ini muncul ketika seorang putri pejabat dari Pekalongan datang ke Salem dan jatuh cinta kepada seorang pemuda setempat. Setelah menikah, keduanya menetap di Desa Bentar. Dari sanalah keterampilan membatik mulai dikenal masyarakat dan perlahan berkembang ke desa-desa sekitar, seperti Bentarsari dan wilayah lain di Kecamatan Salem.

Seiring berjalannya waktu, Batik Salem melahirkan berbagai motif khas yang masih dipertahankan hingga sekarang. Salah satu yang paling dikenal adalah motif Kopi Pecah. Motif ini menjadi simbol kuat warisan leluhur masyarakat Salem karena coraknya masih dijaga keasliannya hingga saat ini. Selain itu, ada motif Manggar yang terinspirasi dari tanaman manggar yang banyak tumbuh di daerah Salem. Motif ini menunjukkan kedekatan masyarakat dengan alam sekitar yang kemudian diwujudkan menjadi karya seni batik.

Tidak kalah khas, Batik Salem juga memiliki motif Ukel dengan pola sederhana tetapi tetap memiliki nilai budaya yang kuat. Ciri khas Batik Salem sendiri terletak pada penggunaan warna hitam dan putih yang memberikan kesan sederhana, klasik, tetapi tetap elegan. Dari motif-motif tersebut terlihat bahwa batik bukan hanya sekadar kain untuk dipakai, melainkan juga menyimpan sejarah dan identitas masyarakat Salem.

Sayangnya, di tengah perkembangan zaman, keberadaan batik mulai menghadapi tantangan, terutama dari generasi muda. Saat ini, banyak anak muda lebih tertarik memakai outfit “kalcer” yang sedang tren di media sosial. Fashion modern dianggap lebih keren, lebih fleksibel, dan lebih cocok digunakan sehari-hari. Sementara itu, batik sering kali hanya dipakai saat acara formal, sekolah, atau kegiatan tertentu saja. Melihat kondisi tersebut, rasanya batik bukan kalah menarik, melainkan kalah diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat kepada generasi sekarang.

Tanpa disadari, kebiasaan tersebut membuat batik perlahan mulai dijauhkan dari kehidupan anak muda. Padahal, batik sebenarnya bisa tetap terlihat menarik jika dipadukan dengan gaya berpakaian yang lebih modern. Saat ini sudah banyak model pakaian kasual yang memadukan unsur batik dengan desain kekinian sehingga lebih nyaman dipakai dalam aktivitas sehari-hari.

Meski begitu, masih ada banyak anak muda yang tetap bangga mengenakan batik sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Tidak sedikit pula yang mulai memperkenalkan Batik Salem melalui media sosial, acara budaya, hingga dipadukan dengan gaya fashion modern agar terlihat lebih dekat dengan generasi sekarang. Mungkin batik memang tidak selalu masuk dalam tren fashion harian anak muda. Namun, selama masih ada generasi yang mau mengenal, memakai, dan memperkenalkannya, Batik Salem tidak akan benar-benar hilang ditelan zaman.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang