Bensin Naik, Dompet Tipis: Jeritan Mahasiswa di Tengah Gejolak Harga BBM

13 Juni 2026

Dipublikasikan

Bagikan

Isi penuh ya mas


Kalimat sederhana ini kini terasa lebih berat diucapkan sejak harga Pertamax resmi naik menjadi Rp16.250 per liter per tanggal 10 Juni 2026. Kenaikan hampir Rp4.000 per liter secara tiba-tiba membuat banyak pengendara terkejut saat melihat angka di mesin pengisian bensin.


Bagi mahasiswa yang sehari-hari mengandalkan motor untuk ke kampus, ikut kegiatan organisasi, hingga pulang-pergi kos, kenaikan ini bukan sekadar perubahan angka di SPBU. Ini berarti tambahan biaya yang harus diatur dengan cermat, apalagi uang saku tidak bertambah.


Mencari Alternatif

Kenaikan harga Pertamax hingga menembus angka Rp16.250 ribuan per liter membuat banyak mahasiswa harus memutar otak untuk mengatur kembali kondisi keuangan mereka. Salah satu langkah yang paling sering diambil adalah beralih dari Pertamax ke Pertalite. Jika sebelumnya mereka memilih Pertamax karena dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan kendaraan yang digunakan sehari-hari, kini pertimbangan ekonomi menjadi alasan utama dalam menentukan pilihan bahan bakar.


Berpindah ke Pertalite ternyata membawa dampak tersendiri. Karena banyak orang memilih bahan bakar yang lebih murah, antrean di beberapa SPBU jadi lebih panjang dari biasanya. Sekarang, kendaraan yang mengular sampai keluar area SPBU semakin sering terlihat. Bagi mahasiswa yang jadwal kuliahnya padat dan harus tepat waktu, antrean panjang ini jadi masalah besar. Waktu yang seharusnya dipakai untuk belajar, mengerjakan tugas, atau ikut kegiatan kampus malah habis hanya untuk menunggu antrian isi bensin.


Lingkaran Setan yang Takterlihat

Dampak kenaikan BBM seringkali lebih luas daripada sekadar isi ulang tangki motor. Saat harga bahan bakar naik, biaya distribusi barang ikut melonjak. Harga sembako di warung dekat kos jadi naik. Harga lauk di kantin kampus juga ikut menyesuaikan. Pemilik kos pun mempertimbangkan kenaikan iuran listrik yang dipengaruhi oleh naiknya harga energi.

Mahasiswa akhirnya tidak hanya merasakan kenaikan BBM secara langsung, tetapi juga berlapis-lapis dalam setiap pengeluaran kecil sehari-hari. Semua harus ditanggung dari uang saku yang diberikan orang tua.


Selain itu, ada tekanan psikologis yang kerap terabaikan. Rasa tidak nyaman terus-menerus harus minta tambahan uang ke orang tua. Pikiran terus menerus menghitung setiap kali ingin pergi: "Perlu nggak sih? Bisa ditunda nggak?" Bahkan sampai rela melewatkan makan siang demi bisa isi bensin. Ini bukan cuma soal uang, tapi juga menyentuh harga diri, kenyamanan belajar, dan kesehatan mental.


Ini adalah catatan bahwa di balik setiap angka kenaikan yang diumumkan "berapa pun besarnya" ada wajah-wajah konkret yang merasakannya: mahasiswa yang harus merogoh dompet lebih dalam, yang harus menelpon orang tua dengan perasaan bersalah, yang harus memilih antara makan atau bensin.


Mereka bukan statistik. Mereka adalah generasi yang sedang dipersiapkan untuk membangun negeri ini dan mereka butuh lebih dari sekadar apresiasi verbal. Mereka butuh kebijakan yang melihat mereka, mendengar mereka, dan meringankan beban mereka dengan cara yang nyata. Karena pendidikan seharusnya tidak menjadi kemewahan yang tergerus di tepi jalan, bersama tetesan bensin yang semakin mahal.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang