
Ditengah pelarangan dan pembubaran nonton bareng film pesta Babi di sejumlah daerah di Indonesia, Literasi Brebesan sukses mengadakan kegiatan tersebut. Dilaksanakan pada hari Minggu 17 Mei 2026 kegiatan tersebut sukses menarik antusiasme masyarakat yang tertarik untuk menonton dan ingin mendiskusikan isi film tersebut. Sejumlah 45 orang ikut bergabung, mereka datang dari daerah Brebes dan sekitarnya. Bertempat di Markas Gebrak (Gerakan anti korupsi), Saditan, Brebes acara berlangsung tertib dan konduisf tanpa adanya kendala yang berarti.
Film pesta Babi merupakan Film garapan 2 Sutradara yaitu Dhandy Laksono (Sutradara Watchdog) dan Cypre Dyle yang merupakan Antroplog lulusan kyoto University, Jepang. Proses pembuatan film memakan waktu selama 3 tahun, melalui kolaborasi berbagai pihak diantaranya Greenpeace Indonesia, Yayasan Indonesia Baru, Juubi, Watchdog, dan Yayasan Pusaka.
Film tersebut secara umum mendokumentasikan adanya eksploitasi Hutan di Papua yang dilakukan untuk mendukung program strategis nasional (PSN) berupa swasembada pangan, energi biodisel sawit, hingga bioetanol tebu. Lahan seluas 2,3 Juta hektar di selatan papua akan dibuka untuk mendukung megaproyek tersebut yang mana sebagian lahan tersebut merupakan milik masyarakat Adat. Lebih luas lagi Film ini tidak hanya film dokumenter namun juga sebagai bentuk perlawanan masyarakat adat papua untuk mempertahankan hutan adat dan lingkungan hidupnya.
Pesta Babi dipilih sebagai judul film merujuk pada tradisi masyarakat Muyu yang dikenal dengan nama Awon Atatbon. Tradisi ini melibatkan babi bukan hanya sebagai hewan ternak namun juga sebagai simbol dan budaya masyarakat papua. Pesta Babi dipakai sebagai metafora dimana bermaksud ingin menggambarkan bahwa kerusakan hutan bukan hanya berdampak pada lingkungan namun juga mengancam budaya dan identitas masyarakat adat.
Dalam agenda tersebut sebagai pemantik adalah saudara Ibnu Hamdun dengan moderator M. Salman. Dalam diskusinya dia mempertanyakan arah kebijakan pembangunan Indonesia. Haruskah pembangunan dan kemajuan mengorbankan kelestarian alam dan menggusur hak-hak masyarakat adat. Beliau mempertegas “Kita tidak anti pembangunan namun yang kita kritik adalah pembangunan yang dipaksakan dan mengorban kelestarian alam. Pembangunan harus melibatkan partisipasi masyarakat sekitar dan mereka pihak yang harus diuntungkan pertama dari adanya pembangunan. Melalui film ini kita bisa melihat adanya ketidakadilan pada masyarakat papua dengan eksploitasi alam besar-besaran demi keuntungan beberapa pihak semata.
Salah satu peserta dari Losari, Brebes, (Hassan) ikut menyumbangkan pemikiran nya. Beliau menyorot bahwa manfaat langsung yang bisa kita dapatkan setelah menonton Film ini adalah timbulnya kesadaran untuk menjaga alam dimulai dari hal terkecil yaitu membuang sampah. Di Brebes masalah yang dekat namun tidak disadari adalah permasalahan tentang sampah dan pengolahannya, bagaimana sampah dibiarkan menumpuk tanpa adanya tindak lanjut. Beliau mengajak peserta untuk sadar akan kebersihan lingkungan, dan sebisa mungkin mengelola sampah dengan bijak.
Perspektif baru datang dari salah satu peserta yang merupakan lulusan biologi salah satu Universitas di Yogyakarta (Haidatun Nissa). Beliau menyampaikan bahwa Film Pesta babi ini menyadarkan kita bahwa di Papua terdapat Bioindicator yang dalam hal ini terwakili dengan adanya Babi-babi. Secara sederhana Bioindicator merujuk pada pemahaman bahwa kehadiran hewan di suatu daerah mengindikasikan kelestarian suatu wilayah/daerah tersebut. Misalnya, capung mengindikasikan bersihnya wilayah sungai dll. Dalam kasus papua, Babi menjadi bioindicator dimana selama 10 tahun mereka di lepasliarkan dan tidak boleh ditangkap. Jumlah babi yang nanti nya masih bertahan hidup dan kemudian ditangkap akan dikalkulasikan. Jika hasilnya berkurang dari jumlah seharusnya maka hal tersebut mengindikasikan bahwa daerah tersebut hutan nya kurang terjaga. Pengetahuan ini selaras dengan filosofi masyarakat papua dalam Adat Pesta Babi. “Babi melambangkan kelestarian hutan, Tidak ada hutan tidak ada babi, tidak ada babi tidak ada pesta”.
Di Akhir diskusi salah satu peserta (Putri) mengajak untuk berdoa bersama untuk keselamatan Masyarakat papua, sebagai bentuk peduli atas krisis kemanusian yang menimpa mereka. Sebagai penutup pemantik mengajak untuk kembali merefleksikan pesan moral dari film yang telah di tonton tersebut. Harapanya timbul kesadaran untuk lebih mencintai papua sebagai bagian dari Indonesia dan mengingatkan kepada pemerintah dan para pemilik modal bahwa Papua bukan tanah kosong.