Budaya Menunda Tugas di Kalangan Pelajar : Kebiasaan Sepele Berdampak Besar

10 September 2026

Dipublikasikan

Bagikan

Menjadi seorang pelajar berarti siap menghadapi berbagai tanggungan akademik, seperti mengerjakan tugas, mengikuti diskusi, menyusun laporan praktikum, hingga penelitian. Di tengah padatnya aktivitas, tidak sedikit pelajar yang memiliki budaya menunda tugas hingga mendekati batas waktu pengumpulan. Fenomena ini sering dianggap biasa dikalangan pelajar, bahkan sering dikenal dengan istilah “SKS (Sistem Kebut Semalem)”. Namun faktanya, kebiasaan tersebut justru memiliki dampak yang lebih dari sekedar terlambat dalam mengumpulkan tugas.

Menunda tugas merupakan perilaku menunda pekerjaan yang sebenarnya sudah direncanakan, meskipun seseorang telah menyadari bahwa perilaku tersebut dapat menimbulkan konsekuensi yang negatif.

Menunda Tugas Bukan Sekadar Kemalasan

Banyak orang yang beranggapan bahwa pelajar yang kerap menunda tugas adalah seorang pemalas. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa menunda pengerjaan tugas adalah adalah suatu fenomena psikologis yang jauh lebih rumit. Seseorang bisa mengalami penundaan tersebut karena adanya rasa takut gagal, kurang percaya diri, perfeksionisme, kesulitan dalam mengatur waktu, atau bisa karena adanya gangguan dari lingkungan sekitar.

Kemajuan teknologi digital juga dapat memperbesar kemungkinan munculnya penundaan tugas. Tersedianya media sosial, aplikasi video singkat, game online, dan berbagai platform hiburan yang membuat pelajar lebih mudah kehilangan konsentrasi. Berawal dari niat “istirahat selama lima menit” seringkali berubah menjadi berjam-jam tanpa disadari.

Laporan digital 2025 menyatakan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan berjam-jam setiap harinya hanya untuk berselancar di media sosial dan internet. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan digital telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, termasuk dikalangan pelajar. Jika seorang tidak dapat mengontrol waktu penggunaan teknologi, waktu untuk belajar akan semakin berkurang.

Pengaruh Menunda Tugas Terhadap Kinerja Akademik

Kebiasaan menunda mengerjakan tugas bisa berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Dimana seorang pelajar yang menyelesaikan tugas mendekati batas waktu umumnya memiliki lebih sedikit waktu untuk memahami materi, mencari referensi, dan melakukan revisi. Dampaknya, hasil dari tugas tersebut menjadi kurang berkualitas.

Selain itu, proses belajar yang dilakukan secara mendadak dan terburu-buru juga lebih fokus pada penyelesaian daripada memahami materi. Sementara itu, tujuan utama pendidikan bukan hanya sekedar untuk meraih nilai saja, melainkan juga untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah.

Penelitian yang dilakukan oleh Steel (2007) menegaskan bahwa menunda mengerjakan tugas berhubungan dengan rendahnya kinerja akademis dan meningkatkan tingkat stres. Pelajar yang terbiasa menunda tugas akan cenderung cemas ketika tenggat waktu sudah semakin dekat.

Pengaruh Terhadap Kesehatan Mental

Banyak sekali pelajar yang merasakan tekanan emosional akibat kebiasaan menunda menyelesaikan tugas. Semakin lama tugas ditunda, semakin besar pula rasa cemas, rasa bersalah, dan panik yang ditimbulkan. Pada akhirnya, seorang tersebut terpaksa harus menyelesaikan banyak tugas dalam waktu yang singkat, sehingga waktu beristirahat kurang efektif dan kualitas tidur menurun.

Kondisi ini juga dapat berdampak pada kesehatan mental serta keseimbangan hidup pelajar. Kegiatan belajar yang seharusnya menjadi proses pengembangan diri malah berubah menjadi sumber stres yang berkepanjangan. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat mengurangi motivasi belajar dan bahkan mengarah pada kelelahan akademik (academic burnout).

Pentingnya Menumbuhkan Rasa Disiplin Pada Diri

Dalam mengatasi budaya menunda mengerjakan tugas tidak cukup jika hanya diberi motivasi. Pelajar perlu membangun rasa disiplin pada dirinya melalui kebiasaan sederhana yang konsisten. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur tugas sebagai prioritas. Tugas yang sulit dan mendesak biasanya memerlukan waktu yang lama dalam mengerjakannya, maka dari itu sebaiknya dikerjakan lebih awal untuk memaksimalkan pengerjaan tugas dan memberikan kesempatan penilaian tugas sebelum dikumpulkan.

Kedua, pelajar harus bisa mengurangi gangguan digital saat belajar. Misalnya dengan menonaktifkan notifikasi gawai (handphone) atau dengan menerapkan metode Podomoro, belajar selama 25 menit kemudian beristirahat selama lima menit.

Ketiga, sangat penting untuk memiliki target harian yang realistis. Menyelesaikan sedikit demi sedikit pekerjaan setiap harinya lebih efektif dibandingkan meyelesaikan semuanya dalam satu malam. Kebiasaan ini juga dapat membantu membentuk rasa tanggung jawab seorang pelajar terhadap tugasnya.

Disisi lain, sebuah lembaga pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam membantu siswanya mengasah keterampilan dan manajemen waktu melalui bimbingan akademik, pelatihan kecakapan hidup (soft skill), serta layanan konseling bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.

Budaya menunda tugas seperti itu sering dianggap sebagai hal yang biasa dikalangan pelajar. Namun, kebiasaan tersebut justru memiliki dampak negatif terhadap prestasi akademik, kesehatan mental, dan pembentukan karakter seorang pelajar. Menunda tugas bukanlah sekedar kemalasan, melainkan hasil dari berbagai faktor psikologis dan lingkungan yang perlu dipahami secara lebih mendalam.

Pelajar sebagai generasi intelektual perlu memiliki disiplin belajar yang baik, mampu mengelola waktu dengan baik, serta dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak. Keberhasilan sebuah pendidikan bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan seorang dalam mengelola tanggung jawab secara konsisten. Dengan mengurangi kemalasan menunda tugas, seorang pelajar tidak hanya dapat meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga dapat mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih produktif, profesional, dan lebih siap dalam menghadapi tantangan di masa depan. 


Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang