Kalau pertama kali datang ke Banyumas lalu nongkrong di warung kopi pinggir jalan, mungkin ada yang bakal merasa suasananya agak “keras”. Orang-orang ngobrol dengan nada lantang, saling komentar secara langsung, bahkan kadang terdengar seperti sedang berdebat. Padahal sebenarnya biasa saja. Memang seperti itulah cara sebagian masyarakat Banyumas berkomunikasi.
Di Banyumas, orang terbiasa berbicara apa adanya. Kalau tidak suka ya bilang tidak suka. Kalau ada yang terasa aneh, langsung dikomentari saat itu juga. Tidak terlalu banyak basa-basi atau kalimat yang diputar-putar supaya terdengar halus. Cara bicara seperti ini dikenal dengan istilah cablaka.
Bagi masyarakat Banyumas, cablaka bukan sesuatu yang buruk. Justru sebaliknya, itu dianggap sebagai bentuk kejujuran. Orang yang terlalu banyak basa-basi kadang malah dicurigai tidak tulus atau menyembunyikan sesuatu. Karena itu, keterusterangan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Banyumas. Mereka lebih menghargai orang yang jujur meskipun terdengar tajam dibanding orang yang terlihat sopan tetapi sebenarnya tidak terbuka.
Masalahnya, budaya seperti ini mulai terasa berbenturan dengan dunia digital sekarang. Media sosial mengubah cara orang berkomunikasi secara besar-besaran. Dulu percakapan hanya terjadi di rumah, warung, atau lingkungan sekitar. Sekarang, satu kalimat bisa masuk internet dan dilihat ribuan orang dalam hitungan menit.
Akibatnya, banyak orang jadi lebih hati-hati saat berbicara di media sosial. Sedikit salah ucap bisa langsung dipotong dari konteksnya lalu dianggap menyerang pihak tertentu. Tidak heran kalau akhirnya banyak orang memilih bermain aman. Kalimat-kalimat di media sosial terdengar rapi, sopan, dan penuh pertimbangan, tetapi kadang terasa kurang jujur.
Menurut saya, di sinilah cablaka menjadi menarik untuk dibahas. Budaya Banyumas yang terbiasa berbicara lugas sering dianggap terlalu kasar di ruang digital. Padahal kalau dipahami lebih jauh, masalahnya bukan selalu soal niat buruk, melainkan perbedaan cara berkomunikasi. Apa yang terdengar biasa bagi orang Banyumas belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang dari daerah lain.
Fenomena seperti ini sebenarnya cukup sering terlihat. Logat Banyumasan atau logat “ngapak” misalnya, masih sering dijadikan bahan candaan di media sosial maupun televisi. Orang Banyumas kerap digambarkan lucu, polos, atau bahkan kampungan. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya bercanda, tetapi lama-lama stereotip seperti itu bisa membuat sebagian anak muda Banyumas merasa minder menggunakan logat mereka sendiri, terutama saat berada di luar daerah.
Saya sendiri pernah melihat ada orang yang sengaja mengurangi logat ngapaknya ketika berbicara di kampus karena takut dianggap aneh. Padahal logat daerah seharusnya tidak perlu disembunyikan. Justru di situlah identitas seseorang terlihat.
Kalau dipikir lagi, cablaka sebenarnya punya nilai yang penting di zaman sekarang. Di tengah dunia yang penuh pencitraan, kejujuran menjadi sesuatu yang semakin jarang ditemukan. Banyak orang berbicara hanya untuk terlihat baik di depan publik. Tidak sedikit juga yang memilih menyembunyikan pendapat asli demi menghindari konflik. Akibatnya, komunikasi sering terasa dangkal karena semua orang sibuk menjaga image masing-masing.
Cablaka menawarkan sesuatu yang berbeda, yaitu keberanian untuk jujur dan terbuka. Tentu bukan berarti bebas berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain. Tetap ada batas dan empati yang harus dijaga. Namun, ada nilai keberanian dalam budaya ini yang menurut saya masih relevan sampai sekarang.
Meski begitu, mempertahankan cablaka di era digital memang tidak mudah. Generasi muda Banyumas hidup di dua dunia sekaligus: budaya lokal dan media sosial yang lebih global. Mereka harus bisa menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitasnya sendiri. Ini yang kadang sulit. Di satu sisi ingin tetap jadi diri sendiri, tetapi di sisi lain juga takut dianggap kasar atau tidak sopan di internet.
Karena itu, menurut saya yang perlu dilakukan bukan menghilangkan cablaka, melainkan memahami cara menempatkannya. Kejujuran tetap penting, hanya saja penyampaiannya perlu disesuaikan dengan situasi dan konteks. Tidak semua hal harus disampaikan secara mentah. Sebaliknya, masyarakat juga perlu belajar bahwa keterusterangan tidak selalu berarti kasar.
Menariknya, media sosial sebenarnya juga membuka peluang baru bagi budaya seperti cablaka. Sekarang banyak orang justru lebih menyukai konten yang terasa jujur dan apa adanya dibanding yang terlalu dibuat-buat. Konten kreator yang berbicara spontan sering dianggap lebih dekat dengan penonton karena terasa lebih autentik.
Artinya, karakter cablaka sebenarnya masih punya tempat di era digital, asalkan disampaikan dengan kesadaran dan empati. Dunia digital mungkin berubah, tetapi orang tetap menghargai kejujuran.
Selain itu, budaya cablaka juga mengingatkan kita bahwa Indonesia punya cara berkomunikasi yang sangat beragam. Standar kesopanan tidak selalu sama di setiap daerah. Apa yang dianggap biasa di Banyumas bisa terasa terlalu blak-blakan bagi orang lain. Begitu juga sebaliknya. Karena itu, memahami budaya komunikasi daerah lain menjadi penting supaya kita tidak mudah salah paham.
Kalau dipikir lebih jauh, persoalan ini sebenarnya bukan hanya tentang Banyumas. Banyak budaya lokal sekarang menghadapi tantangan yang sama: bagaimana tetap bertahan di tengah arus digital dan globalisasi. Sedikit demi sedikit, identitas daerah mulai memudar karena generasi mudanya merasa harus mengikuti standar komunikasi yang dianggap lebih modern atau lebih diterima secara nasional.
Padahal, ketika budaya lokal hilang, kita juga kehilangan cara unik dalam melihat dunia. Cablaka mungkin terlihat sederhana, tetapi di dalamnya ada nilai keterbukaan, keberanian, dan kejujuran. Nilai-nilai seperti itu justru terasa semakin penting ketika media sosial dipenuhi pencitraan dan kepalsuan.
Pada akhirnya, cablaka tidak harus dianggap sebagai budaya yang kasar atau ketinggalan zaman. Sebaliknya, budaya ini bisa menjadi pengingat bahwa berbicara jujur masih punya tempat di tengah dunia yang semakin sibuk menjaga penampilan. Tentu saja cablaka tetap perlu berjalan bersama empati dan kesadaran sosial. Namun selama nilai dasarnya masih dipertahankan, budaya ini akan tetap relevan bagi generasi sekarang.
Mungkin pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah cablaka cocok di era digital atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita masih cukup berani untuk berbicara jujur di tengah dunia yang semakin sensitif terhadap segala hal?