Bagi sebagian orang, guru itu cuma orang yang sekedar ngajarin baca-tulis di depan kelas, ngasih PR, UJIAN, kemudian mencetak raport. Tapi bagi saya, guru itu bisa jadi “penentu nasib”. Ada guru yang bikin muridnya berkembang, ada juga guru yang tanpa sadar membuat muridnya enggan untuk berangkat sekolah.
Menurut saya kualitas guru sangat berpengaruh pada siswa nya. Banyak guru yang langsung nge-judge muridnya “malas” atau “nakal” hanya karena anak itu belum bisa membaca seperti teman-teman seusianya. Memang membaca itu kunci pertama dan sangat krusial dalam hal pembelajaran. Karena dengan bisa membaca maka dia juga bisa menulis, jadi jika dia belum bisa membaca tentunya tidak bisa menuangkan dalam tulisan tentang apa yang dapat dia baca. Namun jika terdapat siswa yang tertinggal dari teman - teman nya karena belum bisa membaca, perlu diteliti lebih mendalam tentang penyebab nya.
Karena dalam beberapa kasus, guru langsung menyimpulkan dia adalah anak yang malas, tidak mau belajar untuk membaca. Padahal belum tentu anak itu malas. Bisa jadi dia mengalami kesulitan dalam belajar seperti Disleksia, Diskalkulia, Disgrafia, Perilaku Agresif, Kecemasan, Autism, Pemalu, Gagap (stuttering), Gangguan Pemusatan Perhatian (ADD), Hiperaktif (ADD). Salah satu yang akan saya bahas adalah “Disleksia”. Banyak guru di Indonesia yang belum mengenal kondisi kesulitan dalam belajar seperti “Disleksia” ini.
Alodokter. (2025). Disleksia. Ditinjau oleh: dr. Robby Firmansyah Murzen.
Disleksia adalah gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia kesulitan dalam mengenali kata-kata yang didengar dan mengubahnya menjadi tulisan atau kalimat. Disleksia tergolong sebagai gangguan saraf pada bagian otak yang memproses bahasa. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak atau orang dewasa. Meskipun disleksia menyebabkan kesulitan dalam belajar, penyakit ini tidak memengaruhi tingkat kecerdasan penderitanya.
Gejala dari disleksia ini seperti sulit membedakan huruf yang bentuknya hampir sama saat menulis, misalnya 'q' dengan 'p', 'd' dengan 'b, atau 'e' dengan 'a', lambat dalam memahami nama dan bunyi huruf, sering menulis terbalik seperti 'ibu' menjadi 'ubi'.
Saya mulai kenal dengan 'Disleksia' ini setelah menonton film Taare Zameen Par 'every child is special'. Tokoh utamanya Ishaan yang mengalami Disleksia, sayangnya dia terus mendapatkan tekanan dari guru maupun Ayahnya, yang tidak mengetahui kondisi yang dialami Ishaan. Terlebih kakaknya yang selalu mendapat juara kelas, membuatnya kerap dibandingkan dengan kakaknya. Seolah tolak ukur keberhasilan ada pada kakaknya. Tekanan yang terus menerus, dan kurangnya dukungan membuat dia menjadi menjadi tempramen, enggan untuk berbicara, dan perlahan mulai meninggalkan hobi melukis nya.
Hal itu terasa cocok dengan kutipan dari Mr.Nikumbh guru seni pengganti yang pernah berkata,
“Di pulau salomon, Ketika pribumi ingin membangun tempat tinggal di hutan tersebut, mereka tidak menebang pohonnya, mereka hanya berkumpul disekitar pohon, dan berteriak. Serta mengutuk, dan mengumpat pohon tersebut. Dan dalam hitungan hari pohon tersebut layu, dan mati dengan sendirinya.”
“Perhatian, perhatian sangat penting Mr.Awasthi. Perhatian memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, seperti salep untuk nyeri. Anak-anak membutuhkannya. Seperti pelukan, ciuman penuh cinta, sekarang dan seterusnya untuk menunjukkan bahwa anda peduli. Katakan “Nak, aku mencintaimu.”, “Jika ada yang membuatmu takut, datanglah padaku”, “Bagaimana jika engkau terjatuh? Jangan khawatir aku ada untukmu, Nak”: jaminan”
Anak dengan kondisi Disleksia ini sangat memerlukan perhatian, dukungan, ataupun jaminan agar mereka merasa aman, karena kondisi ini sendiri sudah membuat anak kurang percaya diri.
Menurut saya, jika dia malah mendapat tekanan seperti dibandingkan, terus dimarahi, dihukum, bahkan dicemooh, maka pelahan dia akan mulai meninggalkan hobinya hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
Ishaan yang dulu sering dimarahi, dibentak, dihukum oleh gurunya, bahkan hendak dikeluarkan dari sekolah oleh gurunya membuat dirinya sangat tempramen, tidak memiliki semangat untuk ke sekolah, kurang percaya diri dan hendak mengakhiri hidupnya. Bahkan disekolah baru Ishaan pun mendapat perlakuan yang sama oleh gurunya. Hingga dia bertemu Ram Shankar Nikumbh, guru seni pengganti yang dulunya mengajar di Tulips School. sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan mengalami gangguan perkembangan. Sehingga dengan hanya melihat tulisan Ishaan, Nikumbh langsung mengetahui kondisi Disleksia yang dialami Ishaan. Nikumbh pun memberikan kelas khusus untuk Ishaan, menggunakan metode pendekatan yang tepat sehingga dia mulai merasa semangat dan percaya diri, hingga akhirnya potensi melukis yang dimilikinya pun perlahan muncul dibalik kondisi disleksia yang dialaminya.
Pada akhirnya, kualitas guru itu sangatlah berpengaruh pada kondisi muridnya. Guru yang baik adalah guru yang tidak hanya melatih namun dapat mengubah murid yang belum bisa menjadi bisa, mampu memberikan perhatian dan kasih sayang sehingga murid memiliki kepercayaan dan merasa aman saat bersama. Jadi perlunya pemahaman yang lebih luas terutama mengenai kondisi kesulitan belajar. agar guru dapat membantu siswa keluar dari kondisi tersebut.