Dekap Karunia-Mu

Lantunan angin berbisik pelan,

Daun daun bergerak sendu,

Membelai lirih dibawah langit redup,

Seolah seluruh alam sedang bersujud

Dibawah kehendak-Nya,


Langit yang redup tak pernah benar-benar sunyi,

Sebab pada tiap hembus angin,

Ada nama Tuhan yang disebut semesta.


Dan manusia,

Hanyalah serpihan kecil

Tak pernah benar-benar terlihat

Selalu bergerak mengikuti arah takdir

Yang tak luput dalam genggaman-Nya.


Sebab Tuhan selalu hadir

Pada tiap detak,

Pada tiap rasa,

Pada tiap napas,

Merengkuh dengan cinta.


Dan dalam sunyi yang paling dalam,

Manusia perlu belajar satu hal:

Untuk senantiasa bersyukur

Sebab kasih-Nya yang tiada tara.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang