Lantunan angin berbisik pelan,
Daun daun bergerak sendu,
Membelai lirih dibawah langit redup,
Seolah seluruh alam sedang bersujud
Dibawah kehendak-Nya,
Langit yang redup tak pernah benar-benar sunyi,
Sebab pada tiap hembus angin,
Ada nama Tuhan yang disebut semesta.
Dan manusia,
Hanyalah serpihan kecil
Tak pernah benar-benar terlihat
Selalu bergerak mengikuti arah takdir
Yang tak luput dalam genggaman-Nya.
Sebab Tuhan selalu hadir
Pada tiap detak,
Pada tiap rasa,
Pada tiap napas,
Merengkuh dengan cinta.
Dan dalam sunyi yang paling dalam,
Manusia perlu belajar satu hal:
Untuk senantiasa bersyukur
Sebab kasih-Nya yang tiada tara.