Di balik Cakrawala

Di balik Cakrawala


Aku berdiri di tepian pasir yang basah,

memandang alunan ombak yang berkejaran tanpa lelah.

Laut ini teramat luas, memisahkan kita oleh bentang jarak,

membuat rindu ini menjelma gemuruh yang tak pernah berjarak.


Kau ada di sana, di balik cakrawala yang samar,

sosok paling nyata yang membuat hati ini berbinar.

Namun dalam rengkuh sepi, terkadang kau terasa semu,

seperti fatamorgana di atas samudra biru.


Ada masa di mana sepi ini begitu menghunjam,

saat jemari ini hanya menyentuh angin malam yang dingin dan kelam.

Tapi anehnya, aku tidak pernah benar-benar kesepian,

sebab bayangmu selalu hadir, mengusir segala sunyi yang datang.


Kau begitu jauh, melampaui ribuan mil laut lepas,

namun begitu dekat di dada, mengalir dalam napas yang lepas.

Setiap kali ombak menyentuh kaki, aku merasa kau menyapa,

membisikkan bahwa jarak hanyalah angka, bukan akhir dari kita.


Biar laut menjaga rindu yang dititipkan pada arusnya,

sampai tiba masanya, pelabuhan ini tak lagi sekadar harap dan doa.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang