Diantara suci dan luka: puisi Adonis dan sejarah yang belum usai

28 September 2026

Dipublikasikan

Bagikan

Sebuah Kumpulan sajak dari timur Tengah karya Adonis, menceritakan bagaimana gambaran penderitaan perempuan masa itu di Timur Tengah. Melalui Musyfiqur Rahman buku ini kembali di terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dengan judul “Sejarah yang tercabik di tubuh perempuan.” Puisi-puisi Adonis memandang tubuh perempuan bukan sekadar wadah pengalaman personal, tetapi sebagai arsip Sejarah yang memuat luka panjang diskriminasi. Di dalam metafora Adonis perempuan tampil sebagai sosok yang dibungkam oleh tradisi, agama, dan kekuasaan laki-laki. Namun, lewat keberanian bahasanya, Adonis justru berusaha membuka pintu wacana baru: perempuan sebagai subjek yang setara, bebas, dan berdaulat atas tubuh serta sejarahnya sendiri.

Bagi adonis, tubuh perempuan bukanlah sebuah entitas biologis atau objek estetika, melainkan sebuah perkamen tua di mana peradaban Timur Tengah menuliskan Sejarah panjang kekerasannya. Melalui puisinya, Adonis menjadikan tubuh perempuan sebagai lanskap penderitaan kolektif. Luka yang tergambar pada fisik perempuan dalam sajak-sajaknya adalah manifestasi dari luka peradaban yang gagal memanusiakan separuh dari populasinya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan mengatasnamakan penjaga kesucian dan moralitas publik, Masyarakat patriaki merampas otoritas perempuan atas dirinya sendiri. Tubuh perempuan diubah menjadi medan pertempuran biologis atas kesempurnaan, di mana cara mereka bergerak, dan bersuara didikte oleh dogma-dogma gender. Dalam kritik Adonis, terlihat jelas bagaimana tradisi dan tafsir moralitas bekerja sama mengurung perempuan. Mereka dituntut untuk menjadi patuh dan sempurna, namun di sisi lain hak mereka di lucuti, hak-hak dasarnya diamputasi oleh system yang menolak melihat mereka sebagai manusia seutuhnya.

Ali Ahmad Sa’id Isbir menerbitkan buku ini pada tahun 2008, namun karya ini masih terasa sangat relevan sampai sekarang. Seperti rilis laporan tahunan (CATAHU) Komnas perempuan pada tahun 2025, mecatat data pengaduan kekerasan perempuan sebanyak 4.597, hal ini adalah jumlah laporan terbanyak yang diterima selama sepuluh tahun terakhir. Realitas yang diterima membuktikan bahwa Sejarah yang tercabik di tubuh perempuan belum tuntas; luka peradaban terus diproduksi dan diwariskan di tengah Masyarakat ini.

Tingginya angka pada kasus ini bukanlah hanya kebetulan semata. Jika di dalam kaca mata Adonis semua kejadian ini terjadi karena Masyarakat kita masih memeluk tradisi dan dogma yang usang namun diberlakukan sebagai sesuatu yang sakral. Di negeri ini, budaya patriaki pandai menyamar; sering kali mengenakan jubah agama dan berlindung di balik benteng adat istiadat.

Sering terdengar teks keagamaan dan petuah leluhur disalahartikan oleh para pemikir patriaki untuk membenarkan pemikiran yang membuat laki-laki berkuasa. Narasi seperti “surga istri terletak pada taatnya istri pada suami” atau dogma “suami adalah kepala rumah tangga, sehingga istri harus tunduk pada suami”, diam-diam terus terjaga dan masuk ke dalam pemikiran masyarkat sejak dini. Akibatnya, pemahaman bias ini perlahan menjadi racun bagi peradaban. Ketika perempuan mengalami kekerasan di rumahnya sendiri, sebuah tempat yang seharusnya menjadi pelindung dan tempat pulang dari kekejaman dunia, justru perempuan korban patriaki disuruh diam dan bersabar karena standar moralitas yang cacat tersebut.

Lantas, bagaimana cara memutus rantai yang melukai peradaban ini? Idealnya, nilai-nilai moral dan kesetaran pertama kali dibentuk di dalam keluarga. Namun, pada realitasnya tidak sejalan dengan teori. Bagaimana jika keluarga justru menjadi ruang pertama yang mencontohkan dogma patriaki? Bagaimana jika sedari kecil mereka melihat bagaimana ayahnya mendikte segalanya?

Ketika keluarga gagal menjadi ruang yang aman dan rumah justru berubah menjadi tempat pembibitan patriaki, maka satu-satunya benteng pemutus rantai adalah sekolah. Pendidikan harus berani melawan ajaran keliru yang mungkin di bawa anak-anak dari rumah mereka. Di sinilah Pendidikan agama di sekolah punya pekerjaan rumah yang sangat besar.

Selama ini, Pelajaran agama sering kali tanpa sadar justru mengawetkan tradisi lama. Agama diajarkan sebatas hafalan doa, aturan benar salah yang kaku, dan anjuran selalu patuh. Akibatnya, materi yang diajarkan di sekolah sering kali terasa sangat jauh dari kenyataan pahit perempuan-perempuan yang menjadi korban kekerasan.

Untuk menyembuhkan “Sejarah yang tercabik” tadi, sekolah tak boleh lagi sekadar mencetak pabrik, melainkan juga menanamkan nilai-nilai moral yang sesuai dengan agama. Ketimbang memberikan petuan atau ceramah terus menerus pada anak perempuan untuk menundukan pandangan, menjaga diri, dan memperbanyak sabar, para guru juga memiliki tanggung jawab untuk mengimbangi ajaran dengan menanamkan pemikiran laki-laki secara tegas tentang empati, cara menghargai batasan, dan bahwa perempuan bukan sebuah benda yang bisa diatur dan kuasai seenaknya.

Hanya dengan cara inilah, kita bisa melepaskan berhenti mewariskan luka pada generasi selanjutnya. Dan mungkin suatu hari nanti puisi-puisi Adonis tidak lagi dibaca sebagai cerminan penderitaan perempuan, melainkan sebagai pengingat bahwa pada akhirnya perempuan bisa kembali berdiri di atas kakinya sendiri, merebut kembali kebebasan atas sejarah dan tubuhnya sendiri.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang