Epilog Sunyi dari Lelah yang Bertumbuh

Di antara dinding-dinding yang menghafal denyut langkahku, kutitipkan sebuah pamit yang tak pernah benar-benar selesai.

Sebab di ruang ini tempat sistem bernafas, birokrasi bersuara, dan pertemanan tumbuh dari luka maupun tawa.

Aku ditempa oleh hal-hal yang tak sempat kusebutkan namanya kekuatan yang menggerus ragu, ketekunan yang mengasah sabar, dan jiwa batin yang dipadatkan oleh badai yang tak terlihat.

Hari ini, sebelum jejakku hilang di tikungan waktu, izinkan aku membungkuk pada kenangan yang menua dengan pelan.

Mengucap terima kasih pada setiap serpih pelajaran yang menyelinap di balik rapat, target, dan malam-malam yang padam.

Namun pada lorong yang sama, aku tinggalkan pula maaf yang tak sempat kusuratkan.

Maaf atas salah yang tak terhitung, atas nada suaraku yang kadang retak, atas pekerjaan yang mungkin kurang utuh, atas diri yang tak selalu tepat.

Dan bila esok kita bertemu lagi di panggung yang berbeda, dengan peran baru yang belum kita kenal.

Semoga semesta mempertemukan kita tanpa beban yang hari ini masih menggantung.

Untuk teman-temanku, biarkan sukses merayap perlahan menuju kalian, menyelimuti setiap langkah yang kalian perjuangkan.

Jangan lupakan aku, meski aku tahu namaku bukan yang paling bersinar di ruangan ini.

Jika aku pernah berbuat salah, biarlah ia menguap bersama waktu jangan simpan aku dalam ingatan yang pahit.

Tolong ingat aku dalam kebaikan terkecil yang pernah tertinggal, dalam sapaan yang tidak berarti, atau dalam tawa yang sempat kita bagi di sela tekanan.

Sebelum pintu ini menutup, ketahuilah, aku pergi bukan untuk menghilang, hanya memberi ruang agar takdir bisa menulis bab baru yang mungkin, entah kapan, akan mempertemukan kita lagi.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang