Fenomena FOMO dan Dampaknya terhadap Kehidupan Masyarakat di Era Digital

Mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita, sebenarnya FOMO itu apa? FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal terhadap trend, informasi, pengalaman, maupun aktivitas yang sedang dilakukan orang lain. Fenomena ini semakin sering muncul di era digital, terutama sejak media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Pada masa sekarang, media sosial tidak hanya memengaruhi anak muda, tetapi juga orang dewasa, orang tua, bahkan anak-anak di bawah umur. Pengaruh digitalisasi dapat membawa dampak positif maupun negatif, tergantung bagaimana cara penggunaannya. Dalam hal ini, keluarga memiliki peran yang sangat penting karena keluarga merupakan al-madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak. Meskipun sekolah juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan memberikan pendidikan, keluarga tetap menjadi lingkungan utama yang menentukan perkembangan moral dan perilaku anak.

Oleh karena itu, orang tua harus bijak dalam menggunakan teknologi. Sikap bijak di sini berarti mampu mengontrol dan memberikan batasan terhadap penggunaan gadget pada anak. Arus informasi di media sosial bergerak sangat cepat. Dalam hitungan menit, berbagai konten dapat tersebar luas, baik yang positif maupun negatif. Ketika anak terlalu sering terpapar konten negatif, hal tersebut dapat memengaruhi pola pikir dan perilakunya. Tidak sedikit kenakalan remaja seperti tawuran, bullying, hingga tindakan anarkis dipengaruhi oleh kurangnya pengawasan dari lingkungan keluarga.


Beberapa kasus yang beredar di media juga menunjukkan dampak buruk dari kurangnya kontrol terhadap penggunaan teknologi. Misalnya, terdapat berita tentang anak yang melakukan tindakan kriminal akibat terpengaruh permainan daring. Selain itu, kurangnya perhatian orang tua dalam pengasuhan, seperti menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada pengasuh atau tempat penitipan tanpa pengawasan yang baik, juga dapat berdampak pada kondisi psikologis anak di masa depan.

Di sisi lain, perkembangan media sosial juga melahirkan gaya hidup hedonis dan konsumtif. Banyak orang merasa cemas dan takut tertinggal dari orang lain, terutama dalam mengikuti trend. Fenomena ini dapat dilihat dari kebiasaan sebagian pelajar yang berlomba menggunakan barang-barang mahal, seperti telepon genggam bermerek, pakaian trend, hingga nongkrong di cafe demi mengikuti lingkungan pertemanan. Padahal, tidak semua keluarga memiliki kondisi ekonomi yang sama.

Sebagai contoh, di beberapa daerah yang tingkat ekonominya masih rendah, gaya hidup konsumtif tetap berkembang di kalangan remaja. Hal ini menunjukkan bahwa budaya FOMO dapat mendorong seseorang memaksakan keinginan demi pengakuan sosial. Akibatnya, orang tua terkadang harus bekerja lebih keras demi memenuhi tuntutan gaya hidup anak tanpa mempertimbangkan kondisi fisik maupun psikologis mereka.

Fenomena tersebut tentu menjadi tantangan bagi masyarakat dan pemerintah. Diperlukan adanya sosialisasi dan edukasi, khususnya melalui lembaga pendidikan, ekonomi, dan dakwah, mengenai pentingnya hidup sederhana dan bijak dalam menggunakan media sosial. Dalam lingkup keluarga, pengawasan terhadap aktivitas anak juga harus dilakukan dengan baik. Pengawasan bukan berarti mengekang, melainkan sebagai bentuk perlindungan agar anak tidak terjerumus pada hal-hal negatif.

Namun demikian, budaya FOMO tidak selalu berdampak buruk. Dalam sisi tertentu, perkembangan tren digital juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya pusat perbelanjaan, bisnis digital, transportasi online, hingga industri kreatif menunjukkan bahwa perkembangan teknologi mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Selain itu, orang tua juga perlu meningkatkan kemampuan dalam menggunakan teknologi agar tidak mengalami ketertinggalan digital (gaptek). Saat ini, hampir seluruh aspek kehidupan telah berbasis teknologi, mulai dari alat rumah tangga, transportasi, komunikasi, hingga layanan makanan. Jika masyarakat tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, maka akan muncul berbagai hambatan dalam kehidupan, terutama dalam hal efektivitas dan efisiensi.


Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi fenomena FOMO di era modern ini antara lain: pertama, bijak dalam memilah milih informasi agar tidak mudah terpengaruh hoaks. Kedua, tidak mengikuti trend secara berlebihan yang dapat menimbulkan perilaku boros. Dan ketiga, menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt.

Pada akhirnya, keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman memang sulit dihindari karena manusia memiliki nafsu dan keinginan. Namun, hal terpenting adalah bagaimana kita mampu mengendalikan diri agar tidak terbawa arus secara berlebihan. Seperti yang pernah disampaikan oleh B. J. Habibie, “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengatur waktu dan disiplin.” Ungkapan tersebut dapat dimaknai bahwa perkembangan teknologi dapat menjadi jalan menuju kesuksesan apabila dimanfaatkan dengan baik dan bijak. Sebaliknya, jika tidak mampu mengontrol diri, maka kita akan mudah tenggelam dalam arus perkembangan tersebut tanpa memiliki pondasi moral yang kuat.


Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang