Green Literacy: Wujud Cinta Lingkungan ala Literasi Brebesan

3 Mei 2026

Dipublikasikan

Bagikan

Jika komunitas literasi identik dengan buku, kopi, dan diskusi, Literasi Brebesan menghadirkan nuansa berbeda dengan menggelar kegiatan penanaman 1.000 pohon bakau. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 26 April 2026 di Pulau Cemara, Sawojajar, Brebes. Peserta datang dari berbagai kalangan yang peduli terhadap isu lingkungan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga masyarakat umum. Sebanyak 120 orang turut ambil bagian dalam misi sosial tersebut,berasal dari berbagai daerah di sekitar Brebes, di antaranya Tegal, Pemalang, Banyumas, dan sekitarnya.


Mengusung konsep “Green Literacy: 1000 Plants to Save Our Ocean”, kegiatan ini bertujuan mengedukasi pentingnya menjaga lingkungan melalui langkah kecil yang berdampak jangka panjang. Bertepatan dengan momentum Hari Bumi, agenda ini menjadi sarana refleksi terhadap hubungan manusia dengan alam, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang.


Ketua Literasi Brebesan, Ibnu Hamdun dalam sambutannya mengapresiasi seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan Green Literacy. Ia menyampaikan bahwa penanaman pohon di Pulau Cemara merupakan bagian dari upaya hablu minnal alam (menjalin hubungan dengan alam), sebagai bentuk kesadaran untuk merawat lingkungan yang selama ini telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan.

“Alam telah memberikan banyak berkah sehingga kita bisa tetap eksis di bumi. Sudah sepantasnya kita menjaga kelestariannya. Keberlangsungan pantai dan laut adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.


Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pengarahan dari Dinas Lingkungan Hidup yang juga merupakan bagian dari Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata).

Pada sesi ini, peserta dibekali pengetahuan mengenai teknik penanaman, manfaat mangrove bagi ekosistem laut, serta cara perawatannya.


Tanaman bakau dipilih karena memiliki banyak manfaat serta metode penanaman yang relatif mudah.

Selain berfungsi sebagai penahan abrasi pantai, mangrove juga mampu mengurangi dampak tsunami, menjadi habitat berbagai biota laut, menyerap karbon untuk menekan pemanasan global, serta menjaga kualitas air. Adapun teknik penanaman dilakukan dengan menanam bibit berusia 3–4 bulan sedalam sepertiga bagian di dekat ajir, kemudian ditimbun dengan lumpur dengan jarak ideal antar bibit sekitar satu meter.


Selain kegiatan utama penanaman, acara juga diisi dengan sesi interaksi antar peserta dari berbagai daerah, permainan, serta diskusi ringan yang memperkuat jejaring komunitas.

Kegiatan ditutup dengan penampilan pembacaan puisi oleh peserta dan panitia, yakni “Marsinah si Buruh Arloji” dan “R.A. Kartini”, sebagai refleksi peringatan Hari Buruh dan Hari Kartini.


Melalui gerakan Green Literacy ini, diharapkan masyarakat semakin peduli terhadap keberlangsungan lingkungan, khususnya ekosistem laut. Perlu diketahui bersama bahwa pantai tidak sekedar menjadi destinasi wisata, tetapi merupakan ruang hidup yang perlu dijaga kelestariannya agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang. Tanpa kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan, pantai tidak lebih dari sekadar nama.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang