Hanya Ingin Pulang Bersamamu

Di sebuah kota kecil yang ramai oleh suara kendaraan dan lampu jalan yang tak pernah benar-benar tidur, hiduplah seorang pria bernama Arga. Umurnya dua puluh enam tahun. Selama itu pula, hidupnya berjalan tanpa pernah benar-benar mengenal apa itu cinta dari seorang wanita.

Bukan karena ia tak ingin. Arga hanya terlalu hati-hati menjaga hatinya. Baginya, cinta bukan permainan singkat yang datang lalu pergi sesuka hati. Ia memandang cinta seperti sesuatu yang suci, sesuatu yang hanya diberikan sekali untuk seseorang yang benar-benar ingin tinggal.


Hari-harinya sederhana. Bangun pagi, bekerja, pulang malam, lalu tidur. Begitu terus selama bertahun-tahun. Teman-temannya sering mengejeknya karena tak pernah terlihat dekat dengan perempuan mana pun.


“Lu hidup kayak mesin,” kata mereka.


Arga hanya tersenyum kecil. Dalam diam, ia percaya bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang datang dan membuat semua penantiannya terasa berarti.


Dan ternyata, orang itu datang.

Namanya Alya.

Pertemuan mereka sederhana, tapi cukup untuk mengubah hidup Arga perlahan. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh enam tahun, ada seseorang yang membuatnya berani membuka hati. Alya bukan perempuan yang terlalu manis, tapi tutur katanya membuat Arga merasa nyaman. Terlebih lagi, Alya pernah berkata bahwa ia tidak mencari hubungan main-main.


“Aku kalau sama seseorang maunya serius… buat nikah,” ucap Alya waktu itu.


Kalimat sederhana itu tertanam kuat di kepala Arga.


Sejak saat itu, hidupnya berubah. Ia yang dulu hanya tahu kerja lalu pulang, mulai memaksa dirinya bekerja lebih keras. Setelah pulang kerja, ia mengambil pekerjaan sampingan. kadang membantu temannya berjualan, kadang bahkan tidur hanya beberapa jam demi tambahan uang.

Bukan karena ia tamak.

Ia hanya ingin segera memantaskan diri untuk melamar perempuan yang ia cintai.


Arga tidak pernah bercerita pada siapa pun tentang perasaannya. Selama dua puluh enam tahun, ia memilih memendam semuanya sendiri. Bukan karena ia tidak mampu mencintai, melainkan karena ia percaya bahwa cinta bukan sekadar kata-kata manis yang mudah diucapkan lalu dimainkan sesuka hati.


Baginya, cinta adalah sesuatu yang suci. Sesuatu yang harus diperjuangkan, dijaga, dan dihargai dengan sepenuh hati. Karena itulah Arga tidak pernah sembarangan membuka hatinya kepada siapa pun. Ia takut jika perasaan yang ia anggap begitu tulus justru diperlakukan seperti permainan oleh orang lain. Dalam pikirannya juga arga berfikir, jika cinta dijaga dengan tulus, maka suatu hari cinta itu juga akan dijaga balik oleh orang yang sama.

Namun kenyataan tidak selalu sebaik harapan.


Semakin lama, Arga mulai merasa ada yang berbeda dari Alya. Kadang perempuan itu begitu hangat, kadang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Saat Arga berusaha serius membicarakan masa depan, Alya justru menjawab dengan candaan.

Seolah semua perjuangan Arga hanyalah sesuatu yang lucu.

Padahal Arga datang dengan hati yang paling tulus.

Ia rela lelah.


Rela kehilangan waktu istirahat.

Rela menahan banyak keinginan pribadinya demi menabung untuk masa depan yang bahkan belum tentu benar-benar ada.

Yang paling menyakitkan bukan ketika cintanya tidak diterima.

Tetapi ketika ketulusannya dianggap permainan.


Malam itu, setelah pulang dari pekerjaan sampingannya, Arga duduk sendirian di alun - alun sambil memandangi lampu kota. Tangannya masih kotor oleh debu pekerjaan, tubuhnya lelah, tetapi pikirannya jauh lebih hancur.


Ia teringat semua ucapan Alya tentang hubungan serius, tentang mencari pria yang siap menikah. Tapi kini Arga mulai bertanya-tanya…

Apakah semua itu hanya kata-kata?

Atau mungkin, selama ini Alya hanya menyukai perjuangan yang Arga berikan, bukan Arga sebagai manusia.


Namun di balik kecewanya, Arga tetap tidak membenci perempuan itu.

Karena begitulah cara ia mencintai.

Terlalu tulus sampai bahkan saat disakiti pun, ia masih berusaha memahami alasan orang lain.

Malam semakin larut.


Arga menarik napas panjang lalu tersenyum kecil, senyum yang dipenuhi kelelahan dan kecewa.

Untuk pertama kalinya setelah dua puluh enam tahun menjaga hatinya, ia sadar bahwa cinta yang paling sulit bukan menemukan seseorang untuk dicintai…


melainkan menemukan seseorang yang menghargai ketulusan itu.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang