Kata yang Tak Bisa Dihapus

10 September 2026

Dipublikasikan

Bagikan


Suara yang dulu terdengar tenang dan dekat

Kini meledak menjadi teriakan yang menusuk telinga

Ucapan kasar meluncur tanpa ragu sedikit pun

Dari mulut yang seharusnya menjadi tempat berlindung

 

“Bajingan!” — terlempar keras memecah keheningan

“Bangsat!” — menyusul dengan nada penuh amarah

Dari sosok yang seharusnya melindungi dan membimbing

Justru menjadi sumber luka yang paling terasa dalam

 

Setiap kata bukan sekadar bunyi yang lewat

Ia menancap ke dalam, merobek segala rasa percaya

Tak ada jeda, tak ada pertimbangan

Hanya makian yang datang bertubi-tubi tanpa henti

 

Aku hanya bisa terdiam membisu

Menahan air mata yang ingin meluap tak tertahankan

Bagaimana bisa tangan yang dulu pernah mengusap lembut

Mengucapkan kalimat yang membuat diri terasa hancur seketika?

 

Luka ini tak tampak di luar bagi siapa pun

Namun terasa jauh lebih perih daripada luka fisik apa pun

Ucapan itu tak akan pernah bisa ditarik kembali

Tertanam rapat di ingatan, tak akan pernah hilang

 

Kita hanya dua orang yang tinggal serumah

Atau terpisah jarak, namun terasa makin jauh

Hanya terikat nama dan darah semata

Tanpa rasa, tanpa kedekatan, tanpa cerita

 

Tak akan ada kata maaf yang terucap kemudian

Tak akan ada niat untuk memperbaiki apa yang rusak

Ikatan yang pernah ada sudah mati sejak kata pertama terucap

Hanya menyisakan rasa muak dan luka yang tak mungkin sembuh

 

Dan tak ada harapan sedikit pun untuk kembali seperti semula

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang