Suara yang dulu terdengar tenang dan dekat
Kini meledak menjadi teriakan yang menusuk telinga
Ucapan kasar meluncur tanpa ragu sedikit pun
Dari mulut yang seharusnya menjadi tempat berlindung
“Bajingan!” — terlempar keras memecah keheningan
“Bangsat!” — menyusul dengan nada penuh amarah
Dari sosok yang seharusnya melindungi dan membimbing
Justru menjadi sumber luka yang paling terasa dalam
Setiap kata bukan sekadar bunyi yang lewat
Ia menancap ke dalam, merobek segala rasa percaya
Tak ada jeda, tak ada pertimbangan
Hanya makian yang datang bertubi-tubi tanpa henti
Aku hanya bisa terdiam membisu
Menahan air mata yang ingin meluap tak tertahankan
Bagaimana bisa tangan yang dulu pernah mengusap lembut
Mengucapkan kalimat yang membuat diri terasa hancur seketika?
Luka ini tak tampak di luar bagi siapa pun
Namun terasa jauh lebih perih daripada luka fisik apa pun
Ucapan itu tak akan pernah bisa ditarik kembali
Tertanam rapat di ingatan, tak akan pernah hilang
Kita hanya dua orang yang tinggal serumah
Atau terpisah jarak, namun terasa makin jauh
Hanya terikat nama dan darah semata
Tanpa rasa, tanpa kedekatan, tanpa cerita
Tak akan ada kata maaf yang terucap kemudian
Tak akan ada niat untuk memperbaiki apa yang rusak
Ikatan yang pernah ada sudah mati sejak kata pertama terucap
Hanya menyisakan rasa muak dan luka yang tak mungkin sembuh
Dan tak ada harapan sedikit pun untuk kembali seperti semula