
Ada sebuah kisah dari mahasiswa bernama Sulthan dari Pekalongan. Dia kuliah di UIN Saizu Purwokerto jurusan Pendidikan Agama Islam. Dia sekarang semester 2. Dia menceritakan kehidupan sebagai mahasiswa di purwokerto. Ada satu hal yang menarik selama dia berkuliah di purwokerto, yaitu pertama percakapan dengan menggunakan logat ngapak. Di dalam kehidupannya, seringkali dia memakai bahasa "medok" karena dia berasal dari Pekalongan. Dia harus beradaptasi dengan teman temannya yang berasal dari Banyumas. Dia seringkali terlihat aneh ketika tema temannya menggunakan bahasa ngapak. Tetapi dia sudah mulai belajar bahasa ngapak. Kedua Purwokerto adalah kota slow living menurut dia, kenapa?
Karena di purwokerto tidak seramai di Pekalongan, yang biasanya Pekalongan itu macet, orang banyak yang tidak menggunakan helm, sering terjadi kecelakaan, dan sering terdengar bunyi klakson. Di purwokerto dia sungguh kaget dengan culture shock kota ini, purwokerto adalah kota yang adem, slow living, masyarakat nya tertib lalu lintas dan memakai helm, bahkan jarang terdengar klakson. Purwokerto itu seperti Jogja, tetapi versi slow livingnya. Ketiga purwokerto dijuluki sebagai kota sejuta parkir. Dia sungguh heran ketika mau membeli siomay, banyak tukang parkir di grendeng padahal hanya membeli siomay saja. Tak tanggung-tanggung, hampir setiap toko mesti ada tukang parkir nya. Kadang kalo dibayar 1.000 tidak mau, maunya 2.000.
Itulah beberapa culture shock dia selama menjadi mahasiswa di Purwokerto. Tetapi dengan itu dia merasa nyaman tinggal di purwokerto karena banyak mahasiswa dari Unsoed bahkan dari internasional yang berkuliah di UIN.