Pada senja yang disundut waktu
Kujadikan punggung bapak sebagai dahan paling kelu
Bagi seekor burung yang kehabisan kidung nun merdu—tertelisik pada dasar kalbu
Bapak melongok dengan haru—selalu
Menyaksikanku mengarungi langit yang dirundung sendu
Dan kabut yang berkali-kali menerjang jalan pulangku
Bapak tersenyum, tanpa baju
Karena dahan tahu, sayap selalu rindu pada hangat yang rimba—dulu
Karena dahan tahu, eratnya cengkeram kini telah tertiup dari kata menentu
Bapak, bagaimana terbangku?
Sepi—ternyata dahan tak lagi menopang keluhku, raib tertelan rapuh kayu
Sejenak aku berteman jatuh, untung ular tak menggagahiku
Hingga tahu membisikanku, bahwa cengkeraman burung tak selamanya milik dahan kayu
Aku kepakkan sayapku—lagi, walau lugu menjadi lagu paling pilu
Dan pada langit kelabu yang mengasuh haru
Burung tahu, bukan sangkar dahan baru yang menjadi penentu
Tapi kepak sayap yang enggan membeku
Purwokerto, 07 Mei 2026