Kepak yang Menanak Haru

9 Juni 2026

Dipublikasikan

Bagikan

Pada senja yang disundut waktu

Kujadikan punggung bapak sebagai dahan paling kelu

Bagi seekor burung yang kehabisan kidung nun merdu—tertelisik pada dasar kalbu


Bapak melongok dengan haru—selalu

Menyaksikanku mengarungi langit yang dirundung sendu

Dan kabut yang berkali-kali menerjang jalan pulangku


Bapak tersenyum, tanpa baju

Karena dahan tahu, sayap selalu rindu pada hangat yang rimba—dulu

Karena dahan tahu, eratnya cengkeram kini telah tertiup dari kata menentu


Bapak, bagaimana terbangku?

Sepi—ternyata dahan tak lagi menopang keluhku, raib tertelan rapuh kayu

Sejenak aku berteman jatuh, untung ular tak menggagahiku

Hingga tahu membisikanku, bahwa cengkeraman burung tak selamanya milik dahan kayu


Aku kepakkan sayapku—lagi, walau lugu menjadi lagu paling pilu

Dan pada langit kelabu yang mengasuh haru

Burung tahu, bukan sangkar dahan baru yang menjadi penentu

Tapi kepak sayap yang enggan membeku


Purwokerto, 07 Mei 2026

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang