Kepemimpinan Muhammad Al-fatih dalam penaklukan Konstantinopel

Kepemimpinan Muhammad Al-Fatih dalam Penaklukan Konstantinopel Muhammad Al-Fatih atau Mehmed bin Murad ia lahir pada tanggal 30 maret 1432 di sebuah kota yang Bernama Edirne ibu kota Daulah Utsmaniyah pada ssat itu. Beliau adalah putra dari Sultan Murad dua yang merupakan raja ke enam Daulah Utsmaniyah sedangkan ibu nya adalah Huma Hatun. Muhammad Al-Fatih di didik oleh ayahnya dengan intensif melalui dua ulama pilihan ayahnya yaitu Syaikh Ahmad Al-qurani dan Syaikh Aaq Syamsudin. Pejalaran petama Al-Fatih adalah tentang adab yang diajarkan oleh Syaikh Ahmad Al-qurani, seperti namanya tentang al-qur’an karena dasar dari semua Pendidikan adalah al-qur’an. Kemudian guru nya yang kedua Aaq syamsudin yang membentuk mentalnya dengan cara menceritakan kisah-kisah tentang perjuangan para nabi, sahabat, dan leluhurnya dalam memperjuangkan islam. Dari mulai bagaimana mengatur strategi dalam berperang, bagaimana sikap seorang pemimpin dalam memimpim pasukannya sehingga beliau tumbuh kecintaan kepada Baginda Rasulullah dan ingin meneruskan perjuangan beliau. Maka pada umur 11 tahun ia membuat puisi tentang jihad. Setelah menempuh pendidikan bersama dua ulama tersebut Al-fatih menjadi sultan pada umur 12 tahun dan menguasai 6 bahasa pada umur 16 tahun, yang keren nya setelah ia baligh hingga meninggal ia tak pernah meninggalkan salat rawatib dan tahajud. Saat itu dunia mengenalnya sebagai pemimpin yang gila, ia mengumpulkan pasukan-pasukan yang bernama ingkisaria, sekitar 7.000 pasukan elit dengan program pelatihan terpadu sejak kecil yang di bagi kesetiap barak-barak dan di berikan satu ulama di setiap barak di didik dan di jadikan menjadi pasukan yang bermental mujahid. Dalam riwayat nya, Muhammad Al-fatih membangun benteng yang tak tergoyahkan sekitar 82 meter melanjutkan usaha buyutnya Sultan Bayazid I yang membangun benteng Anadoluhisar. Yang mana benteng tersebut menutup akses jalur laut yang akan datang ke konstantinopel, sehingga semua bantuan perang, bantuan logistik tertahan oleh pasukan Muhammad Al-fatih. Berbeda dengan benteng konstantinopel, benteng yang mempunyai struktur indah di buat pada tahun 300 dan tidak pernah runtuh sampai tahun 1453 kokoh selama 1123 tahun. Kenapa demmikian, karena benteng yang sangat kuat, yang mempunyai 3 lapisan benteng lapaisan pertama parit panjangnya 20 meter dalamnya 10 meter, kemudian lapisan kedua tingginya 5 meter tebelnya sekitar 3 meter,lanjut lapisan terakhir tingginya 8 meter tebelnnya sekitar 5 meter. Muhammad Al-fatih mencoba masuk dari bawah namun sayang nya usaha ia di ketahui oleh pasukan konstantinopel. Mereka menaruh ember dengan jarak 1 meter dari ember yang lain sehinga ketika ada yang gali di bawah ada getaran kemudian di gali lalu siram minyak kemudian bakar, Maka gagal strategi dari bawah tanah. Pucuk di cinta ulam tiba, suatu hari seorang seniman senjata namanya adalah Orban yang berasal dari Hunggaria datang kepada kaisar konstantinopel karena kesamaan akidah mereka makai ia bilang kepada kaisar konstantineopel, “saya punya senjata apakah tuan mau membelinya” kaisar menjawab “maaf saya sedang tidak ada uang. Begini saja, kamu tinggal disini jangan kemana mana jika kami punya uangnya maka kami akan membeli senjata anda. Setahun ia tinggal di konstantinopel senjatanya tidak di beli-beli oleh kaisar, maka ia pergi ke tempat Muhammad Al-fatih menawarkan senjata yang sama. Kemudian Muhammad Al-fatih bertanya “bisakah anda membuat senjata yang sesuai dengan apa yang saya mau”. Maka Orban menjawab “apakah engkau ingin menghancurkan benteng konstantinopel” Muhammad Al-fatih menjawab “ kalo iya kenapa” kata Orban “kalo iya kebetulan, saya sudahs satu tahun tinggal disana dan tidak di bayar”. Maka perjanjian antara Muhammad Al-fatih dan Orban terajadi dengan kesepakatan akan di bayar 4 kali lipat dari harga aslinya senjata Orban. Di buatkanlah senjata yang sangat fenomenal pada saat itu yang bernama “The Greats Turkish Bombard”, kalibernya 1,4 meter, beratnya 18,2 ton, panjanya 5,2 meter, jarak tembaknya 1,6 kilometer, dan berat pelurunya 680 kilogram. Orban membuatkan senjatanya sebanyak 69 senjata, satu senjata ukuranya 5,2 meter yang satu lagi 8,4 meter yang sisanya ukuran setandar yaitu 3-4 meter. Setelah pembuatan senjata, semua persiapan sudah selesai pada tanggal 6 april 1453 mulai penyerangan. Al-fatih membuat tiga arah serangan, yang pertama lewat Selatan laut Marmara kemudian sebelah timur lewat tanduk emas lalu dari sebelah barat melalui pasukan darat. Dari Selatan 400 kapal mengepung konstantinopel dari laut Marmara, dari utara beberapa kapal masuk melalui selat tanduk emas, dan dari barat 250.000 pasukan masuk dari edirnie menuju konstantinopel dalam waktu dua bulan beserta dengan senjatanya. Ketika kami berjalan di siang hari maka matahari tidak tembus ke badan kami karena terhalang oleh panji-panji dan tombak tombak kami, dan pada waktu malam hari anda tidak dapat melihat bumi karena terhalang oleh kemah-kemah kami. Maka Ketika pasukan Muhammad Al-fatih sampai ke depan tembok konstantinopel warga disana berkata”kami melihat kaum muslim dtang kepada kami bagaikan sungai dari besi, memenuhi padangan kami dari pantai ke pantai”. Sebelum peperangan dimulai Al-fatih mengirim surat kepada kaisar konstantinopel dengan memberikan tiga pilihan, masuk islam, bayar jizyah, atau melakukan peperangan. Dan hasilnya kaisar berkata “ lebih baik kami mati”. Maka pada saat itu juga pasukan Muhammad Al-fatih melakukan shalat jum’at bersama percis di depan tembok konstantinopel. Setelah shalat peperangan dimulai dan hasilnya Muhammad Al-fatih kalah, serangan dari tiga arah kalah total. Dari sebelah Selatan 400 kapal hancur hanya dengan 27 kapal, sebelah utara di hadang dengan rantai segede kangkong, dan di sebelah barat dengan senjata tapi ternyata baru ketahuan kelemahanya yaitu isi ulang pelurunya tiga jam sekali. Dari tanggal 6 april 1453 sampai tanggal 20 april 1453 dua minggu mereka menyerang mereka kira mereka akan menang ternyata mereka kalah total. Dari situ bukan kemenangan yang mereka liat tapi, mayat-mayat berserakan, logistik yang mulai berkurang, kemudian penyakit yang mulai menyebar, mulai banyak terdengar suara-suara sumbang daari para pasukan. Maka Al-fatih mengumpulkan para panglima perang untuk berdiskusi lanjut apa tidak nya peperangan ini. Hasilnya peperangan tetap dilanjutkan karena pulang bukanlah tujuan kita, tujuan kita adalah menaklukan benteng konstantinopel atau mati syahid. 21 april 1453 di Tengah kebingungan para pasukan, Muhammad Al-fatih mengeluarkan strategi kejutan yang hamper membuat seluruh pasukan berpikir bahwa itu adalah hal yang tidak masuk akal. Al-fatih mengomando pasukanya untuk meniakan kapal ke bukit Galata. Keluarlah kata-kata dari Muhammad Al-fatih “ jangan katakana kepadaku tidak mungkin sebelum engkau mati dalam mencobanya”. Maka di sepakati 21 april 1453 pasukan di perintahkan untuk menarik kapal-kapal dari Selat Bosphorus ke Teluk Tanduk emas melewati bukit Galata. Hasiilnya 22 april 1453 72 kapal perang dari selat Bosphorus ke Selat Tnduk Emas dalam waktu satu malam. Setelah dapat memindahkah kapal, peperangan dilanjutkan sampai tanggal 27 mei 1453. Hampir dua bulan mereka berperang hingga pad akhirnya pada tanggal 27 mei mereka dapat membuat lubang yang sangat besar di tengah-tengah benteng konstantinopel yang tidak mungkin bisa di perbaiki lagi. Maka Muhammad Al-fatih memerintahkan kepada seluruh pasukanya supaya berhenti berperang, karena besok 28 mei 1453 kita akan berpuasa sunah, berdo’a kepada Allah supaya kita dapat menaklukan benteng itu. Tanggal 29 mei 1453 Muhammad Al-fatih dengan kudanya dan baju perangnya berkhutbah kepada seluruh pasukanya untuk memberikan semangat yang kuat. Setelah itu pasukan pertama yaitu pasukan Ahzab maju, setelah pasukan ahzab majulah pasukan Sipahi yang lengkap dengan persenjataan, kemudian di keluarkan pasukan yang terakhir yaitu pasukan Ingkisaria 7.000 pasukan maju ke medan perang dan hasilnya sebelum matahari terbenam Muhammad Al-fatih memenangkan peperangan.

Pada akhirnya 54 hari mereka perang dan 825 tahun penantian dari semenjak hadis Nabi yang dijanjikan dan akhirnya di buktikan, dan di taklukan oleh seoarang pemuda berusia 21 tahun yaitu Muhammad Al-fatih.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang