Keresahan santri terhadap tokoh perusak agama

13 Juni 2026

Dipublikasikan

Bagikan

Akhir akhir ini kita seringkali dikagetkan dengan banyak fenomena yang sangat

aneh dan mengerikan di dalam ranah agama islam apalagi kami seorang yang lahir

dari kalangan santri, yaitu fenomena banyaknya orang yang mengaku ngaku

sebagai ulama dan kyai tetapi sebenarnya mereka tidak tahu menahu tentang ilmu

dan urusan agama bahkan banyak dari mereka yang bukan dari kalangan pondok

pesantren yang tidak sedikitpun mengerti apa yang dimaksud agama. Parahnya ada

beberapa oknum yang mengaku sebagai kyai dan memiliki pondok pesantren tetapi

tega melecehkan santriwatinya sendiri, uniknya mereka tetap saja berkoar bahwa

dirinya adalah ulama, kyai, bahkan mengaku sebagai habaib atau keturunan nabi

SAW.

Belum lama ini, kita kembali dikagetkan oleh fakta memilukan dari sebuah Pondok

Pesantren di Pati. Seorang oknum yang menyandang gelar kehormatan "Kyai" dan

memiliki pondok pesantren, yang bernama Ashary justru menjadi predator seksual

bagi santriwatinya sendiri. Ini bukan sekadar kriminalitas biasa, namun adalah

pengkhianatan paling besar terhadap amanah Tuhan dan penghinaan terhadap

seluruh marwah pesantren di nusantara. Bagaimana mungkin tempat yang

seharusnya menjadi kawah candradimuka akhlak, justru berubah menjadi ruang

gelap bagi masa depan.

Kamudian Fenomena Mama Ghufron yang pernah disikapi serius oleh Majelis

Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2025 namun sekarang masih ada saja

pengajiannya. yang mana gufron ini aslinya bukanlah seorang yang mengerti prihal

agama, tapi dia selalu diberi panggung oleh masyarakat padahal fatwa yang

disampaikan sudah sangat nyelenahnya, seperti halnya dia mengaku sebagai

penjaga gawang neraka, mengaku keturunan imam nawawi al bantani, bisa bahasa

hewan dan malaikat, dan masih banyak lainnya. Dengan penampakan seperti itu

seharusnya kita sadar bahwa fatwanya tidaklah dapat diterima oleh akal manusia

dan hal tersebut adalah penistaan agama yang sangat nyata.Mirisnya, mereka tetap saja diberi panggung oleh sebagian besar masyarakat, para

masyarakat tetap percaya kepada para tokoh perusak agama itu karena embel embel

berkah, padahal mereka sendiri tidak tahu apa yang dimaksud dengan berkah tapi

para masyarakat tidak peduli karena mereka hanya mengikuti tanpa mengerti apa

yang disampaikan itu benar atau salah dalam istilah lain taqlid buta. Dalam hal ini

ada dua permasalahan pertama banyaknya orang orang yang mengaku sebagai

ulama, kyai dan tokoh agama tetapi mereka bukanlah seorang yang mengerti dan

memahami agama, kedua adalah permasalahan masyarakat yang taqlid buta

terhadap tokoh perusak agama tersebut.

Sebagi kalangan santri kami jelas sangat marah dan tidak terima terhadap fenomena

di atas karena sebagai orang yang lama hidup di lingkungan pondok pesantren dan

yang menjunjung tinggi marwah pondok pesantren kami merasakan betul batapa

susahnya mencari ilmu agama di dalam pesantren. di sana kami dilarang

memberikan kajian ataupun fatwa kepada orang lain sampai ilmu yang didapat

memanglah sudah mencukupi atau sudah dibolehkan oleh sang guru. Dalam

mencukupi pemahaman ilmu agama juga tidak gampang karena membutuhkan

waktu bertahun tahun bahkan ada yang sampai belasan tahun. Karena kami di sana

dididik untuk mengetaui beberapa pan ilmu seperti ilmu alat yang terdiri dari nahwu

shorof yaitu ilmu untuk memahami gramatikal bahasa arab atau lebih spesifiknya

adalah kitab kuning, kemudian ilmu fiqih yaitu kitab yang mempeelajari tentang

hukum syariat yang berkenaan dengan manusia baik dari aspek muamalah ataupun

siyasah, kemudian ilmu ushul fiqih yaitu ilmu yang digunakan untuk mengambil

hukum dari nash yaitu qur’an dan hadist, kemudian ada ilmu mantiq, arud,

balaghoh, tafsir, hadist, dan masih lainnya.

Dengan pernyataan diatas sudah jelas bahwa untuk mejadi pendakwah ataupun

tokoh agama tidaklah semudah membalikan tangan, seorang yang ingin menjadi

tokoh agama haruslah banar-benar menguasai dan paham tentang urusan agama

baik sacara keilmuan dan sanadnya. Tapi hal ini sangat bertolak belakang di era

sekarang ini, di mana seorang yang licin bibirnya lebih dijunjung daripada yang

berilmu, yang viral dan kondang lebih dipercaya dariapada yang menuntut ilmu

agama bertahun-tahun di pondok pesantren. Maka sebagai kalagan santri kami

sangatlah kecewa dengan fenomena di atas, karena bagaimana mungkin para tokoh

perusak agama ini dengan gampangnya menyebarkan fatwa-fatwa yang sesat,

dengan gampangnya melecehkan santri putrinya sehingga menjelekkan marwah

pesantren, dan lebih menyakitkan lagi masih banyaknya masyarakat yang parcaya

dan taqlid buta terhadap tokoh sesat itu.

Melihat menjamurnya oknum perusak agama dan fenomena taqlid buta di sebagian

masyarakat, diperlukan langkah yang tepat untuk menyelamatkan marwah agama

dan dunia pendidikan pesantren. Langkah pertama harus dimulai dengan

mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memfilter keilmuan atau sanad

seorang tokoh agama ataupun pendakwah, masyarakat tidak boleh lagi hanya terpukau pada retorika, sorban besar, atau keviralannya saja tanpa menelusuri di

mana tempat pendidikannya , siapa gurunya, dan bagaimana rekam jejak akhlaknya.

Di sinilah kalangan santri juga dituntut untuk tidak lagi diam di balik tembok tetapi

harus mulai mengambil posisi sebagai penjaga gerbang informasi agama yang lurus

sebagai kalangan santri harus berani keluar ke permukaan dan memposisikan diri

sebagai filter intelektual di tengah masyarakat, tidak boleh lagi ada sikap uzlah atau

diam saat melihat ilmu agama diselewengkan Santri wajib menjadi garda terdepan

dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya sanad keilmuan, serta

menjelaskan secara tegas bahwa gelar "Kyai" bukan sekadar status sosial atau

penampilan luar, melainkan amanat ilmiah yang sangat berat dan penuh tanggung

jawab. santrijuga harus mengambil alih ruang-ruang digital dan panggung dakwah

agar tidak terus-menerus diisi oleh oknum karbitan yang hanya bermodal lisan licin

dan keviralan saja.Selain itu, ketegasan lembaga seperti MUI dan aparat penegak

hukum dalam menindak oknum yang menggunakan label pesantren untuk tindakan

asusila maupun penyimpangan akidah harus lebih tegas dan menjadi harga mati

agar ada efek jera dan perlindungan nyata bagi martabat pesantren di mata publik.

Sebagai penutup, penting untuk kita renungkan kembali bahwa pesantren adalah

institusi suci yang dibangun dengan pengabdian panjang para ulama terdahulu

untuk mencetak manusia yang beradab dan berilmu. Munculnya predator seksual

yang bersembunyi di balik nama "Kyai" maupun figur yang mempermainkan logika

agama dengan klaim-klaim ajaib adalah ujian berat bagi nalar keberagamaan kita.

Agama bukanlah komoditas yang bisa dipoles dengan viralitas, dan keberkahan

tidak akan pernah lahir dari rahim kemaksiatan maupun kebohongan. Sudah saatnya

kita berhenti memberikan panggung bagi para perusak agama dan kembali

menjunjung tinggi kedalaman ilmu di atas sekadar karisma palsu. Kita harus berani

membedakan mana emas murni yang ditempa selama bertahun-tahun masa

pengabdian di pesantren, dengan loyang yang hanya disepuh oleh penampilan

namun keropos di dalamnya. Jangan biarkan kesucian agama dan marwah pesantren

hancur hanya karena kita terlalu malas untuk berpikir kritis dan terlalu takut untuk

menolak kezaliman yang berlindung di balik jubah takwa.


Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang