Belakangan ini masyarakat media sosial ramai membicarakan jalan di daerah Ajibarang yang disebut-sebut sering memakan korban kecelakaan. Suasana makin heboh setelah muncul video seseorang menaburkan beras kuning di sekitar jalan tersebut. Banyak warga langsung mengaitkannya dengan hal mistis, bahkan muncul cerita bahwa tempat itu meminta tumbal dan harus diberi sesajen seperti rujak mentah maupun rujak matang. Karena cerita itu terus menyebar, banyak orang akhirnya merasa takut ketika melewati jalan tersebut.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Dari dulu masyarakat kita memang hidup berdampingan dengan budaya dan kepercayaan yang berhubungan dengan hal-hal gaib. Di beberapa daerah, sesajen dipercaya sebagai bentuk penghormatan kepada penunggu tempat tertentu atau sebagai doa agar dijauhkan dari bahaya. Beras kuning sendiri sering dianggap simbol keselamatan dan harapan baik. Sementara rujak dalam beberapa tradisi Jawa juga sering digunakan dalam ritual tertentu. Karena itulah, ketika ada orang menaburkan beras kuning di lokasi yang sedang ramai karena kecelakaan, masyarakat langsung menghubungkannya dengan ritual mistis.
Cerita tentang “minta tumbal” akhirnya berkembang semakin luas. Ada yang mengaku mendengar suara aneh, dan ada yang percaya jalan tersebut memang angker. Media sosial membuat cerita seperti ini cepat menyebar dan semakin dipercayai banyak orang. Padahal belum tentu semua cerita yang beredar benar adanya. Kadang cerita tersebut hanya berasal dari omongan warga yang diteruskan dari satu orang ke orang lain hingga akhirnya dianggap fakta.
Di sisi lain, banyak orang juga mulai lupa bahwa kecelakaan di jalan biasanya lebih sering terjadi karena faktor nyata. Kondisi jalan yang berbahaya, tikungan tajam, pengendara yang mengantuk, kendaraan yang tidak layak, hingga kurangnya kehati-hatian sering menjadi penyebab utama kecelakaan. Namun karena masyarakat sudah lebih dulu merasa takut dan percaya pada cerita mistis, kejadian kecelakaan akhirnya selalu dikaitkan dengan hal gaib.
Walaupun begitu, kita juga tidak seharusnya langsung menghina orang yang masih percaya dengan tradisi seperti itu. Indonesia memiliki budaya dan kepercayaan yang sangat beragam. Ada sebagian masyarakat yang memang masih memegang adat turun-temurun dan menganggap ritual tertentu sebagai bentuk ikhtiar atau penghormatan. Selama tidak merugikan orang lain, hal tersebut sebaiknya disikapi dengan bijak.
Fenomena viral di Ajibarang ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih sangat dekat dengan cerita mistis dan budaya tradisional. Di satu sisi, hal itu menjadi bagian dari identitas budaya yang unik. Namun di sisi lain, masyarakat juga perlu belajar membedakan antara kepercayaan, mitos, dan fakta. Karena pada akhirnya, rasa takut tidak akan menyelesaikan masalah jika keselamatan dan kewaspadaan tetap diabaikan.