Langkah di Tengah Luka
Aku terus melangkah, dengan senyum yang tertutup luka
meski langkah terasa berat menembus hari.
Harapan yang pernah tumbuh tinggi,
perlahan gugur diterpa kenyataan.
Aku sempat bertanya pada waktu,
mengapa luka datang silih berganti,
mengapa yang diperjuangkan sepenuh hati,
tak selalu berakhir seperti yang diingini.
Langit tetap biru bagi mereka,
namun di mataku mendung enggan pergi.
Kata-kata penguat datang silih berganti,
tetapi tidak semua sakit mampu sembuh hanya dengan nasihat.
Aku lelah menjadi kuat setiap hari.
sesekali aku ingin berhenti sejenak.
Bukan untuk menyerah,
melainkan untuk mengumpulkan kembali semangat dalam diri.
Dari setiap kecewa,
aku belajar untuk menerima.
Dari setiap air mata,
aku menemukan kekuatan yang baru.
Dan dari serpihan yang tersisa,
aku belajar menerima diriku yang rapuh.
Bahwa menjadi manusia
tak harus selalu tampak kuat.
Maka biarkan aku menangis sejenak,
agar esok aku dapat bangkit kembali,
dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh,
namun dengan harapan yang masih hidup.
Karena selama napas masih berhembus,
masih ada kesempatan untuk terus hidup.