Pernahkah terbersit di benak kita mengapa uang bulanan kini kian menipis meski jumlahnya tidak berubah? Bagi ribuan mahasiswa rantau, hal ini adalah realitas pelik yang memaksa mereka memilih antara mengisi perut atau membayar tugas kuliah. Dampak melemahnya rupiah dan kenaikan BBM paling nyata dirasakan oleh mahasiswa yang sepenuhnya bergantung pada kiriman orang tua.
Padahal, anggaran bulanan mahasiswa biasanya sudah dialokasikan secara ketat untuk kos, makan, dan transportasi. Begitu harga BBM melonjak, biaya hidup lain seperti tarif ojek online, menu warung makan, hingga jasa fotokopi ikut merangkak naik. Akumulasi kenaikan ongkos ini memaksa mahasiswa memutar otak agar bisa bertahan hingga akhir bulan.
Sayangnya, meminta tambahan uang saku bukanlah pilihan mudah karena keluarga di kampung pun turut terhimpit ekonomi. Kondisi ini memaksa mahasiswa mengambil langkah ekstrem, seperti melewatkan makan atau bolos kuliah akibat ketiadaan ongkos. Berdasarkan teori hierarki kebutuhan psikolog Abraham Maslow, gangguan pada kebutuhan dasar seperti pangan dan finansial terbukti menghambat fokus mahasiswa dalam meraih prestasi akademik.
Demi bertahan hidup, banyak mahasiswa akhirnya berinisiatif mengambil pekerjaan sampingan atau menjadi pekerja lepas (freelance). Meski membagi waktu antara kerja dan kuliah sangat menguras energi, tantangan ini justru menjadi ruang penempaan diri yang berharga. Keterbatasan tersebut mengubah mahasiswa menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan tangguh di luar kelas.
Kesimpulannya, kesulitan finansial mahasiswa rantau saat ini berakar dari masalah ekonomi struktural, bukan karena ketidakcakapan mengelola uang. Walau menghadapi tekanan berat, situasi ini sekaligus menumbuhkan daya adaptasi dan ketangguhan yang kuat. Solidaritas dan kemampuan bertahan inilah yang menjaga asa serta cita-cita pendidikan mereka tetap menyala.