di ruangan yang tak kuinginkan aku menunduk, jarum jam menggali hari tanpa tanya, tangan bergerak otomatis,hampa, seperti mesin yang lupa kenal waktu, langit dijendela menawar warna lain tapi mataku menolak pagi ada kata rindu yang tak bisa ku suarakan ada gerak hati yang tersangka oleh "harus" mengumpulkan senyum palsu, bisik dibalik tulang rusuk ku "cukuplah ada jalan lain yang menunggu" Hari masih memungut upeti dari hari-hari yang berlalu, namun aku menyisakan sedikit sinar untuk diri. Malam menunggu, aku turunkan topeng yang berat, dan menemukan napas kecil yang memanggil lepas.
menatap langit lain
Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?
Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.
Tulis Sekarang