Di atas altar aksara yang fana,
Kita mengeja dunia yang semula buta.
Dari rahim sumpah yang tua dan luhur,
Lahir sebuah bahasa, perajut jiwa yang lebur.
Ia bukan sekadar deretan bunyi di rungu,
Bukan pula lambang kaku yang membeku.
Bahasa Indonesia adalah darah pada sejarah,
Yang memeluk ribuan perbedaan tanpa menyerah.
Dari rupa-rupa suku di ujung pulau,
Hingga senandung rindu yang merantau.
Dipadukan ia dalam satu rasa yang sama,
Menjadi jembatan bagi rasa yang tak berwujud nama.
Di ruang kelas ini, kita kembali berguru,
Merawat warisan dari masa yang lalu.
Sebab menjaga bahasa adalah menjaga bangsa,
Agar abadi merdeka, dalam kata dan jiwa.