Apa yang membuat seseorang bisa merasa betah di sebuah tempat yang bukan kampung halamannya sendiri? Pertanyaan ini terus saya pikirkan setiap kali mengingat tiga tahun masa SMA yang saya habiskan di Kalibeber, sebuah desa di Kecamatan Mojotengah, Wonosobo. Saya bukan warga asli sana. Saya datang dari Purwokerto, kota yang terkenal panas, dan mulai tinggal di sebuah asrama di Kalibeber sejak usia 15 tahun tanpa kenal siapa pun. Namun, hanya dalam waktu tiga tahun, tempat itu berhasil membuat saya merasa seperti di rumah sendiri. Setelah saya renungkan, kenyamanan itu tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari tiga hal yang saling berkaitan, seperti lingkungan fisik yang justru mendukung proses belajar, struktur sosial-keagamaan yang erat, dan ekosistem pendidikan yang sudah lama berkembang di sana.
Hal pertama yang paling terasa adalah perubahan iklim. Sebagai anak yang tumbuh di kota panas, saya awalnya kaget dengan suhu Kalibeber yang dingin sepanjang hari, mengingat Wonosobo memang berada di dataran tinggi. Namun, ketidaknyamanan itu justru berbalik menjadi kebiasaan yang saya rindukan. Ada istilah Jawa, “gemrungsung”, yang menggambarkan keadaan ketika cuaca panas membuat orang mudah emosi dan sulit berkonsentrasi. Selama di Kalibeber, saya membuktikan kebalikannya, udara sejuk justru membuat saya lebih fokus belajar dan lebih tenang menjalani rutinitas di asrama. Ditambah lagi, pemandangan pagi dan sore yang menampilkan gunung serta langit yang jernih membuat ritme hidup di sana terasa lambat dan tenang, semacam slow living yang justru saya butuhkan di tengah tekanan sekolah dan asrama. Dari sini saya menyadari bahwa lingkungan fisik suatu tempat tidak hanya soal nyaman atau tidak secara fisik, tetapi juga ikut menentukan seberapa baik seseorang bisa belajar dan berkembang.
Hal kedua yang membuat saya betah adalah struktur sosial dan keagamaan masyarakat Kalibeber. Desa ini dikenal sebagai “kampung santri” karena dipenuhi pondok pesantren, dari yang besar dan terkenal sampai cabang-cabang kecil yang tersebar di berbagai sudut desa. Identitas ini juga memengaruhi cara warganya bersikap, mereka taat menjalankan ajaran agama, namun pada saat yang sama juga sangat ramah kepada orang luar, termasuk saya yang tinggal di asrama sebagai anak rantau. Saya yang awalnya datang sendirian tanpa kenalan, lambat laun dikelilingi orang-orang baik, baik teman sekamar maupun teman dari kamar lain. Kehangatan ini juga terlihat dalam kegiatan bersama warga, seperti festival balon udara raksasa yang setiap tahun melibatkan partisipasi remaja sekitar secara gotong royong, atau bazar takjil yang digelar warga RT di sekitar asrama setiap Ramadhan, yang sebagian besar penjualnya adalah remaja setempat. Kegiatan-kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa kenyamanan di Kalibeber bukan hanya soal fasilitas, melainkan juga soal bagaimana masyarakatnya membangun kebersamaan secara konsisten. Meski begitu, saya juga melihat sisi yang lebih realistis, seperti beberapa remaja di sekitar asrama justru terlihat kurang memiliki arah, bukan karena malas, tetapi karena tidak tahu hendak melakukan apa. Hal ini menunjukkan bahwa kenyamanan sosial di Kalibeber tidak berarti tanpa persoalan, melainkan tetap memiliki tantangan seperti daerah lain pada umumnya.
Hal ketiga, dan menurut saya paling relevan dengan bidang yang saya pelajari sekarang, adalah ekosistem pendidikan yang sudah berkembang lama di Kalibeber. Sekolah saya sendiri berada di bawah naungan yayasan pesantren, tetapi jauh dari kesan tertinggal zaman. Sekolah itu terus mengikuti perkembangan pendidikan modern tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya aslinya, sebuah pola yang menurut saya cukup jarang ditemukan di tempat lain. Selain sekolah saya, Kalibeber juga memiliki banyak lembaga pendidikan lain, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, dengan fasilitas yang cukup memadai. Kebutuhan harian seperti makanan pun terjangkau untuk kantong anak sekolah dan perantau seperti saya, meski desa ini tidak memiliki mal sebagaimana kota besar. Kekurangan itu sebenarnya tidak terlalu berdampak karena di sekitar asrama tetap banyak toko serba ada yang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kombinasi antara pendidikan yang maju dan biaya hidup yang ramah di kantong inilah yang membuat Kalibeber terasa layak dijadikan tempat belajar jangka panjang, bukan sekadar tempat tinggal sementara.
Ketiga hal di atas, jika dilihat secara terpisah, mungkin terdengar seperti kebetulan biasa. Cuaca dingin, warga yang ramah, dan sekolah yang berkembang. Namun, ketika saling terhubung, ketiganya membentuk satu kondisi yang konsisten mendukung saya untuk bertahan, belajar, dan akhirnya merasa nyaman di tempat yang sebelumnya sama sekali asing. Saya bahkan pernah berpikir untuk tinggal lebih lama di Kalibeber setelah lulus, sebelum akhirnya menyadari bahwa desa itu kini sudah cukup padat penduduknya, sehingga saya mengurungkan niat tersebut. Terlepas dari pertimbangan itu, pengalaman tiga tahun di Kalibeber mengajarkan saya bahwa kenyamanan terhadap suatu tempat tidak datang secara instan, melainkan tumbuh dari interaksi panjang antara lingkungan, manusia, dan sistem yang ada di dalamnya. Sebagai mahasiswa pendidikan, saya melihat ini sebagai pengingat bahwa lingkungan belajar yang baik tidak hanya ditentukan oleh kurikulum di dalam kelas, tetapi juga oleh ekosistem sosial dan budaya yang melingkupinya, sesuatu yang saya rasakan langsung selama tinggal di Kalibeber.