Kuhias layarku yang koyak,
sebab laut tak lagi menunggu.
Kutinggalkan ragu di dermaga,
bersama jejak yang tak perlu.
Kuteguk perih jadi tenaga,
menempa cadas di dalam dada.
Kupacu perahu ini,
menuju takdir yang tak tertunda.
Tak perlu lagi menunggu angin,
sebab arah milikku sendiri.
Mimpi menuntut peluh yang tuntas,
agar takdir tak sekadar janji.
Tantangan kuhadapi dengan pasti,
tuk dapatkan hari yang kupahat sendiri.