Coba kita lihat sekarang terminal bus atau stasiun kereta belakangan ini. Pemandangannya telah berubah. Kita akan lebih sering berpapasan dengan gerombolan remaja yang memanggul tas carrier seberat belasan kilo, memakai sepatu yang penuh lumpur, dan wajah yang terlihat lelah namun berbinar. Ada pergeseran kesenangan yang menarik dari ketertarikan remaja saat ini. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya mereka cari di puncak gunung ?
Alasan pertama adalah kebutuhan remaja sekarang untuk tetap waras dari tekanan mental. Mendaki gunung dianggap sebagai sarana healing untuk melepas lelah dari rutinitas sekolah, kuliah, pekerjaan, maupun tekanan media sosial yang mengharuskan seseorang tampil sesempurna mungkin di media sosial. Di atas gunung, sinyal ponsel yang hilang justru menjadi sebuah keistimewaan. Saat koneksi internet terputus, koneksi antarmanusia justru menguat. Di sana, mereka tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk diterima. Gunung tidak peduli berapa banyak followers yang kamu miliki di sosial media, di jalur pendakian, semua orang sama-sama berjuang melawan hawa dingin dan rasa lelah.
Selain itu, gunung menghadirkan kepuasan dalam hati kita. Gunung mengajarkan sesuatu yang berharga bagi kita. Untuk mendapatkan pemandangan lautan awan yang memukau, seseorang harus membayar harganya dengan rasa lelah, otot kaki yang kaku, dan napas yang tersengal. Rasa bangga saat berhasil menyentuh puncak setelah perjuangan berjam-jam adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ini adalah bentuk pembuktian diri bahwa mereka jauh lebih kuat dari yang mereka bayangkan.
Remaja pendaki gunung saat ini bukan sekadar tren yang biasa atau ajang pamer foto estetik di media sosial. Lebih dari itu, ini adalah bentuk respons alami remaja yang rindu akan hal-hal yang menantang diri mereka. Di tengah dunia modern yang penuh kepalsuan dan tekanan, gunung menjadi ruang belajar dan sarana healing yang nyata bagi mereka. Melalui tanah yang becek, batu yang terjal, dan hamparan sabana, para remaja ini sedang belajar tentang arti kesabaran, ketangguhan, dan persahabatan. Mereka memilih mendaki gunung karena di sanalah mereka bisa menemukan kedamaian, sekaligus menemukan pelajaran yang sangat berharga.