
Sumber foto: (instagram @agunsa_gandoang)
Kearifan lokal bisa dibilang sebagai jati diri suatu daerah. Dari situlah kita bisa melihat bagaimana cara hidup, kebiasaan, dan nilai yang dijaga oleh masyarakatnya dari waktu ke waktu. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan mencakup seluruh hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang dipelajari dalam kehidupan sosial. Di Desa Gandoang, Kecamatan Salem, salah satu bentuk kearifan lokal yang masih bisa kita temukan adalah kerajinan anyaman boboko. Terbuat dari bambu, boboko biasanya digunakan sebagai tempat nasi. Namun, sebenarnya boboko tidak hanya sekadar alat, melainkan juga menyimpan nilai seperti kesederhanaan, ketelatenan, dan kedekatan dengan alam.
Kalau dilihat sekarang, boboko memang masih ada, tapi penggunaannya sudah tidak sebanyak dulu. Di beberapa rumah, boboko masih dipakai, tetapi banyak juga yang sudah beralih ke rice cooker atau wadah plastik karena dianggap lebih praktis. Di sisi lain, tidak sedikit generasi muda yang menganggap boboko itu kuno dan kurang cocok dengan gaya hidup masa kini. Hal ini sebenarnya wajar, karena perkembangan zaman dan pengaruh media sosial membuat banyak orang lebih tertarik pada hal-hal yang modern dan instan. Seperti yang dikemukakan oleh Anthony Giddens, modernitas memang membawa perubahan besar dalam cara hidup masyarakat.
Padahal, kalau kita perhatikan lebih jauh, proses pembuatan boboko itu tidak sederhana. Bambu harus dipilih dengan hati-hati, lalu diolah dan dianyam dengan teknik tertentu. Tidak semua orang bisa melakukannya dengan rapi dan kuat. Dari situ terlihat bahwa membuat boboko membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan keterampilan khusus. Selain itu, penggunaan bahan alami juga menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya sudah lama menerapkan cara hidup yang lebih ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Fritjof Capra yang menekankan pentingnya hubungan yang seimbang antara manusia dan alam.
Di tengah kehidupan modern, sebenarnya boboko masih punya peluang untuk tetap bertahan. Salah satunya dengan mengembangkan fungsinya, misalnya dijadikan hiasan rumah, wadah makanan tradisional, atau bahkan produk kerajinan yang punya nilai jual. Dengan desain yang lebih menarik, bukan tidak mungkin boboko bisa diminati oleh anak muda. Tapi tentu saja, hal ini perlu diiringi dengan perubahan cara pandang, bahwa budaya lokal bukan sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan sesuatu yang bisa dikembangkan.
Sayangnya, minat generasi muda untuk belajar kerajinan seperti ini masih tergolong rendah. Salah satu alasannya karena mereka jarang mendapat kesempatan untuk mengenalnya secara langsung. Oleh karena itu, perlu ada langkah nyata, misalnya mengadakan pelatihan atau workshop di desa dengan melibatkan para pengrajin. Selain itu, promosi melalui media sosial juga bisa jadi cara yang efektif untuk memperkenalkan boboko ke masyarakat yang lebih luas.
Pada akhirnya, menjaga kerajinan boboko bukan hanya soal mempertahankan sebuah benda tradisional, tetapi juga tentang menjaga identitas budaya. Kalau generasi muda mulai menjauh dari budayanya sendiri, yang hilang bukan hanya kerajinan, tetapi juga jati diri. Karena itu, sudah seharusnya kita bersama-sama menjaga dan mengembangkan boboko agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.