Di kota yang gemar mengabadikan gemerlap
Ada langkah- langkah yang tak pernah dimuat dalam berita
Mereka berjalan saat embun masih menggigil di pucuk daun
Saat matahari belum selesai menyusun cahayanya di ufuk timur
Dan pulang ketika senja mulai melipat langit perlahan
Tak ada karangan bunga untuk menyambut kepulangan mereka
Tak ada tepuk tangan yang mengiringi letih di bahunya
Tangan mereka tak menggenggam jabatan, tak pula dikenal banyak orang
Mereka menambal retak pada kehidupan,
namun tak pernah tercatat sebagai bagian dari sejarah
Mereka menegakkan dinding-dinding kota, Namun namanya luruh bersama semen yang mengering
Mereka menyapu jalan-jalan yang ramai, sementara dunia berlalu tanpa sempat mengingat wajahnya
Betapa aneh
Manusia begitu pandai mengukir nama di batu peringatan
Namun begitu mudah menghapus jejak-jejak pengorbanan Padahal dari tangan-tangan yang kasar itu, peradaban diam-diam bertumbuh Dari langkah yang nyaris tak terdengar itu, kehidupan berjalan lebih jauh
Wahai dunia
Jika suatu hari kau kehilangan mereka
Barangkali kau akan mengerti
Bahwa tidak semua pahlawan lahir dari panggung dan sorotan
Sebagian memilih menjadi akar, tumbuh dalam gelap
Agar pohon-pohon kehidupan dapat tumbuh menjulang ke langit
Dan ketika namanya tak lagi disebut, kebaikan mereka tetap tinggal
Hidup di setiap jalan yang dilalui
Di setiap bangunan yang berdiri
Dan di setiap doa yang diam-diam dipanjatkan semesta