Metode Belajar Calistung Jaman SD-Ku Vs Jaman Adikku: Better Yang Mana?
Oleh: Isnaefatul Aulita
Belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung) merupakan tahap penting yang dialami setiap anak sebelum memasuki dunia sekolah formal. Calistung menjadi fondasi utama dalam pendidikan dasar. Namun, sadarkah bahwasannya cara mengajarkannya ternyata berubah daari waktu ke waktu? Setiap generasi memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengajarinya. Saat aku duduk di bangku SD belasan tahun yang lalu, metode yang diguankan jauh berbeda dengan apa yang dijalani adikku saat ini. Perbedaan ini semakin terasa setealh aku sendiri menjadi tentor les calistung untuk dua anak dengan latar belakang dan pendekatan yang berbeda. Dari pengalaman itu, aku mempunyai bahan refleksi langsung:metode mana yang sebenarnya lebih efektif untuk perkembangan anak?
Pada masa SD-ku, metode calistung sangat identik dengan pendekatan bertahap dan berulang. Mengenal huruf dimulai dari pengenalan bentuk dari masing-masing huruf urut dari abjad a,b,c, dan seterusnya, lalu disusul mengejar per-suku kata, baru kemudian merangkainya menjadi kata dan kalimat. Pada masa itu, fokusnya ada pada pengulangan mengeja huruf, menyalin kalimat dan berhitung manual. Media yang digunakan juga sederhana meliputi papan tulis, buku tulis dan alat seadanya. Prosesnya pelan, penuh pengulangan, menuntut kesabaran, kadang kala anak-anakcepat bosan, tetapi setiap tahap benar-benar dikuasai sebelum lanjut ke tahap berikutnya. Sehingga anak mendapatkan pemahaman mendalam, anak secara tidak langsung sekaligus belajar untuk menuliskan sendiri apa yang ingin dia ucapkan, selain itu juga membentuk disiplin belajar yang baik.
Berbeda dengan adikku sekarang, yang belajar membaca menggunakan metode hafalan suku kata langsung dengan langkah awal mengenalkan huruf vokal, di eruskan dengan pola kata sebagai contoh ba-bi-bu-be-bo dan seterusnya dihafal sebagai kesatuan bunyi. Media yang digunakan pun tidak berhenti di papan tulis, buku tulis, justru cenderung menggunakan media digital dan permainan edukatif. Pendekatan ini terlihat lebih cepat membuat anak “bisa membaca” dalam waktu singkat.
Pengalamanku menjadi tentor membuktikan perbedaan ini secara langsung. Anak pertama yang benar-benar aku ajarkan dari nol, dia sebelumnya dengan orang tuanya sudah menggunakan metode seperti zamanku, tugasku adalah meneruskan. Prosesnya memang lambat, butuh waktu lebih lama untuk melancarkan dia membaca dan juga dia kadang kala bosan untuk belajar. Namun hasilnya, anak ini dalam 3 bulan benar-benar memahami apa yang dia baca. Ia bisa menuliskan sendiri kata atau kalimat sesuai apa yang ingin dia ucapkan, karena dia paham hubungan antara bunyi, huruf dan makna. Metode ini juga memudahkannya dalam memahami soal saat ulangan serta dalam mengerjakannya terutama yang soal dengan basis esai. Yang menjadi tantangan selanjutnya adalah dia di awal cenderung malas kalau harus membaca soal atau bacaan yang memang panjang.
Sebaliknya, anak kedua yang aku ajar sudah lebih dulu belajar dengan metode hafalan pola suku kata (ba-bi-bu-be-bo dan seterusnya). Anak ini memang terlihat cepat bisa membaca di awal. Tetapi ketika dihadapkan pada kata yang panjang terutama kata dengan akhiran konsonan, dia mulai kesulitan. Dia juga sering tertukar antara pola kata dengan vokal “i” dan vokal “e”. Yang lebih mencolok, dia kesulitan saat diminta menuliskan sendiri kata yang ingin dia ucapkan. Sepertinya dia hafal “bentuk bacaan”, tetapi belum benar-benar memahami bagaimana huruf-huruf itu menyusun makna, sehingga sulit untuk membongkar dan menyusun kembali bentuk tulisan.
Dari pengalam ini, aku melihat ada trade-off yang jelas antar kedua metode. Metode bertahap generasiku memang lebih lambat di awal, tetapi membangun fondasi yang kuat. Anak benar-benar megerti mengenai hubungan huruf, bunyi dan makna, sehingga kemampuan membaca dan menulisnya tumbuh bersamaan dan saling memperkuat. Sementara metode hafalan pola suku kata memang unggul dalam kecepatan, terlihat bisa membaca tetapi pemahamannya cenderung dangkal. Anak menghafal bukan memahami struktur, sehingga masalah muncul ketika dihadapkan pada kalimat yang lebih kompleks atau saat harus memproduksi tulisan sendiri.
Menurutku berdasar pada pengalamanku ini, metode zamanku lebih unggul dalam membangun kemampuan literasi yang utuh, intinya membaca dan menulis itu beriringan. Namun bukan bermakna metode hafalan tidak bagus, metode ini bisa saja jauh lebih unggul dengan catatan bahwa anak harus benar-benar didampingi hingga pada pengajaran yang menekankan pemahaman struktur huruf dan makna, buhan berhenti hanya pada “bisa membaca” secara permukaan. Jadi anak tidak hanya cepat pada pola bilangan tertentu dan tapi juga paada pola bilangan yang rumit seperti pada kata yang mempertemukan vokal dengan konsonan, tidak berhenti di konsonan bertemu vokal. Serta apabila konsonan bertemu konsonan.
Pada akhirnya, kecepatan bukanlah satu-satunya yang menjadi ukuran keberhasilan dalam proses belajar calistung. Sebagai tentor les sekaligus kakak, dapat mengatakan bahawa anak yang belajar lambat namun dengan pemahaman yang kuat, justru memiliki bekal yang matang untuk perkembangan literasi yang tinggi. Metode ini hanya perlu evaluasi agar anak tidak mudah bosan. Metode terbaik bukanlah yang membuat anak “cepat bisa membaca” tapi juga membuat anak benar-benar mampu paham apa yang dia baca dan mampu menuangkannya kembali dalam bentuk tulisannya sendiri.