Produktivitas Yang Tertunda: Kenapa Kita Hobi Menunda Pekerjaan?

10 September 2026

Dipublikasikan

Bagikan

PRODUKTIVITAS YANG TERTUNDA:

KENAPA KITA HOBI MENUNDA PEKERJAAN?




Oleh: Safira Dzakiatun Solikhah


Pernah ngga sih, kamu udah semnagat banget buat ngerjain tugas atau sekedar mberesin kamar? Laptop dan beberapa buku sudah standby diatas meja. Tapi anehnya, pas baru mau mulai mengerjakan, tangan rasanya kaya otomatis megang HP buat buka media sosial. Niatanya sih, cuman buat liat video singkat sebentar, eh tanpa disadari waktu udah kebuang dua jam saja. Kejadian seperti ini pasti sudah akrab sekali rasanya di kehidupan kita sehari-hari? Kebiasaan mengulur waktu seolah sudah menjadi penyakit banyak orang yang susah buat sembuhnya. Padahal kita semua tau kalo menunda itu adalah hal yang merugikan, tapi kenapa ya kita sering terjebak di lingkaran malas ini?


Tugas yang semestinya bisa selesai lebih cepat, tetapi sengaja dibiarkan menumpuk sampai detik-detik terakhir pengumpulan. Pas waktu pengerjaan sudah mepet, barulah kita panik dan mengerjakannya dengan terburu-buru. Kalo jujur pada diri sendiri, akar masalahnya adalah rasa malas yang besar dan hilangnya rasa semangat. Pikiran kita memang cenderung mencari jalan pintu yang mudah, ketika mengalami kesulitan. Ketika melihat tugas yang sulit, otak kita langsung mencari pelarian ke hal yang instan dan menyenangkan, seperti rebahan atau bermain HP guna menonton video atau bermain game.


Selain rasa malas, musuh terbesar kita adalah “menunggu mood” atau menunggu perasaan bersemangat. Banyak dari kita yang berpikir kalua bekerja itu harus menunggu waktu saat hati sedang riang atau penuh inspirasi. Padahal, kalau kita hanya duduk diam menunggu perasaan itu datang secara ajaib, pekerjaan justru akan terus menumpuk. Hasilnya pun sudah bisa ditebak jika mengerjakannya dengan terbuu-buru: tugas selesai asal-asalan, penuh kekeliruan dan bonusnya membuat pikiran kita jadi stress, pusing, dan cemas sendiri.


Anehnya menunda pekerjaan juga sering menyerang orang-orang yang punya sifat terlalu mengejar kesempurnaan. Saking inginnya hasil pekerjaan yang terlihat tanpa cela, mereka malah jadi takut untuk melangkah. Mereka menunggu situasi yang dirasa benar-benar pas. Padahal waktu yang sempurna itu tidak pernah ada kalau kita sendiri tidak berani mencoba dari hal kecil. Ketakutan akan kegagalan atau takut hasilnya tidak sesuai harapan justru membuat rencana kita mati total sebelum berjalan.


Lingkungan juga memiliki peran yang besar dalam membentuk kebiasaan menunda. Ruangan yang berantakan, suasana yang terlalu nyaman, atau tidak adanya batas waktu membuat seseorang lupa pada prioritas. Tanpa adanya perencanaan yang jelas kita mudah terseret dalam godaan untuk melakukan hal-hal yang tidak penting tetapi menyenangkan. Nah, kalau sudah seperti ini beberapa tugas pekerjaan jadi berantakan, hasilnya asal-asalan, dan ujung-ujungnya kita menyesal pada diri sendiri. Rasa bersalah inilah yang pelan-pelan bikin kita minder dan hilangnya rasa percaya diri.


Namun jangan khawatir, hobi menunda ini bukan sifat bawaan lahir yang tidak bisa diubah. Cara mengatasinya sebenarnya sangatlah simple, paksa diri anda untuk bekerja selama lima menit saja. Kerjakan bagian yang paling mudah tanpa perlu memikirkan hasil akhirnya terlebih dahulu. Langkah awal yang dipaksakan ini biasannya ampuh untuk memancing fokus pikiran kita agar mau melanjutkan tugas tersebut. Jadi, mari buang jauh-jauh alasan menunggu mood. Mulailah bergerak dari sekarang agar semua target besar kita bisa tercapai dengan sukses tanpa drama stress!




BIODATA SINGKAT PENULIS

Nama Lengkap: Safira Dzakiatun Solikhah

Akun Instagram: @safiradzakia

Deskripsi Diri: Seorang mahasiswa aktif yag hobi membaca, memasak, menyanyi, menari, dan Menulis keluh kesah hidup di buku catatan. Saat ini sedang aktif mengajar di TPQ SNR dan sedang belajar mengatur waktu dengan baik demi masa depan yang cerah dan produktif.

Foto Penulis:

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang