Purwokerto yang Mendunia: Ketika Ngapak Tidak Lagi Disimpan Rapat

10 September 2026

Dipublikasikan

Bagikan

Saya lahir dan besar dengan suara lantang sapaan “rika” yang saling bersahutan di riuhnya Pasar Wage, aroma gurih sroto kuah kental di pagi hari yang selalu sukses bikin pikiran waras, dan siluet megah Gunung Slamet yang kelihatan jelas dari halaman rumah. Dulu semasa kecil, saya sempat mengira semua kota di dunia ini rasanya bakal sama seperti Purwokerto: tenang, ceplas-ceplos, tulus, dan tidak banyak gaya. Namun, setelah sempat melihat dunia di luar sana, saya baru sadar bahwa tidak semua tempat punya kehangatan yang sama. Purwokerto itu punya magisnya tersendiri.

Di luar lingkar Banyumas, saya sering kali didera rasa kangen yang hebat pada hal-hal kecil tadi. Kota-kota metropolitan lain mungkin jauh lebih ramai, kelihatan lebih estetik di media sosial, pergerakannya lebih cepat, dan gemerlap. Tapi tetap saja, tidak ada satu pun sudut kota luar yang bisa meniru ketenangan dan kelugasan karakter ceplas-ceplosnya Banyumas. Bahasa Ngapak yang kita gunakan sehari-hari sebenarnya adalah bahasa sayang yang tidak neko-neko, sebuah penanda yang bikin kamu tahu persis ke mana jalan pulang.

Lucunya, ada fase di mana saya justru pernah merasa minder dengan identitas ini. Dulu waktu masih sekolah, saya terbiasa menggunakan bahasa Indonesia formal. Kebetulan sekolah saya tergolong lumayan, dan teman-teman sepergaulan banyak yang datang dari luar daerah. Alhasil, ketika ingin mengobrol menggunakan bahasa Ngapak, rasanya malah jadi canggung dan kikuk sendiri. Pikiran labil saya waktu itu berbisik bahwa biar kelihatan seperti anak kota yang modern dan gaul, saya harus berbicara dengan logat nasional yang netral. Dialek Ngapak pun akhirnya saya simpan rapat-rapat di dalam hati, kayak barang kuno yang takut dipamerkan karena khawatir dikira ketinggalan zaman.

Namun, takdir membawa saya ke dunia perkuliahan yang benar-benar menjungkirbalikkan cara pandang sempit tersebut. Di kampus, saya justru dipertemukan dengan banyak sekali mahasiswa perantau dari luar kota. Awalnya, saya sempat mengira akulah yang harus menyesuaikan diri atau bahkan "mengajari" mereka cara berbahasa nasional yang kaku. Ternyata kenyataannya justru berbanding terbalik. Kehadiran para perantau ini malah menjadi aset terbesar yang memantik rasa bangga di dalam dada saya terhadap bahasa daerah saya sendiri.

Buktinya terasa sangat nyata di dunia perkuliahan saya saat ini. Sekarang, kita bisa dengan mudah melihat para kreator TikTok lokal maupun nasional yang dengan bangga menggunakan bahasa Ngapak sebagai identitas utama konten mereka, dan netizen menyukainya. Bahkan, fenomena unik ini masuk ke dalam pagar kampus saya sendiri. Banyak mahasiswa asing yang kuliah di sini malah asyik belajar dan mempraktikkan bahasa Ngapak. Serius deh, tidak jarang saya melihat mereka membuat konten OOTD di media sosial, lalu menuliskan caption lokal seperti, “Rika piye kabare?”. Pemandangan yang luar biasa menggelitik sekaligus membanggakan.

Pergeseran Purwokerto menjadi kota yang multikultural paling terasa jika kita mengamati wajah kampusnya. Dulu, universitas di sini didominasi oleh anak-anak lokal Banyumas dan sekitarnya. Sekarang suasananya sudah sangat kosmopolitan. Di dalam satu ruang kelas yang sama, kita bisa melihat anak Medan yang berbicara dengan logat cepat dan tegas, anak Papua dengan karakter suara lantang berwibawa, berdampingan dengan mahasiswa asing yang masih terbata-bata tapi antusias mencoba menyebut kata “matur nuwun”.

Mereka datang berbondong-bondong ke Purwokerto bukan tanpa alasan kuat. Biaya hidup di Purwokerto jauh lebih bersahabat dan menenangkan dibanding Jakarta, suasananya jauh lebih adem dan minim tekanan ketimbang Surabaya, serta akses mobilitasnya pun sangat mudah. Tapi, yang membuat mereka betah menetap dalam waktu lama bukan cuma urusan murahnya harga perekonomian. Yang membuat mereka benar-benar menaruh hati adalah cara Purwokerto menerima kehadiran mereka dengan tangan terbuka.

Dalam proses adaptasi itu, bahasa Ngapak selalu sukses jadi jembatan emosional yang pertama. Awalnya para mahasiswa rantau ini memang bingung. Mereka harus meraba-raba arti kata “rika” yang berarti kamu, “nyong” atau “inyong” yang berarti saya, hingga kata “temenan” yang berarti serius atau beneran. Lama-kelamaan, mereka malah ikut ketularan. Ada teman kuliah saya yang asli Jakarta, sekarang kalau lagi refleks marah pun kosakata Ngapak-nya langsung keluar. Ada juga mahasiswa asal Malaysia yang sudah fasih menggunakan kalimat “wis mangan urung?” sebagai basa-basi ramah saat menyapa ibu warung makan. Ketika sebuah bahasa daerah bisa membuat orang asing merasa diterima dan melebur, artinya kota tersebut tidak eksklusif. Purwokerto adalah rumah bagi siapa saja yang mau belajar.

Di tengah gempuran modernisasi ini, Purwokerto juga terbukti pintar menjaga keseimbangan hidupnya. Kota ini tidak silau dan tidak mencoba memaksa diri jadi Jakarta kedua. Purwokerto tetap mempertahankan esensinya: punya alun-alun yang selalu ramai dan hidup di sore hari, deretan angkringan rakyat yang setia buka sampai tengah malam, serta keasrian Gunung Baturaden yang siap dituju kapan saja saat pikiran penat oleh tugas kuliah. Kemajuan di kota ini hadir dengan tenang dan tidak berisik. Ia menyelinap lewat kafe-kafe baru yang fungsional diisi oleh laptop dan tumpukan buku mahasiswa, lewat geliat UMKM yang ramah di kantong anak kos, serta lewat tata kota yang mulai rapi tanpa menggusur hajat hidup warganya.

Bagi para pendatang maupun anak daerah yang sempat merantau, Purwokerto terasa seperti tempat bernaung yang tidak menuntut banyak hal. Kota ini tidak akan menginterogasi dari mana asal usulmu atau siapa nama orang tuamu. Ia hanya dengan tulus menyediakan ruang: tempat untuk belajar, ruang untuk tumbuh, tempat untuk mencicipi kegagalan, sekaligus tempat untuk bangkit kembali. Di kota ini, perbedaan logat tidak akan pernah menjadi dinding penghalang. Justru, kalau kamu bisa dengan lantang berseloroh, “Inyong wong ngapak, aja guyon!” dengan intonasi yang pas, saat itu juga kamu langsung dianggap sebagai saudara.

Oleh karena itu, pesona sejati dari Purwokerto tidak akan pernah bisa diukur dari seberapa tinggi gedung pencakar langitnya atau seberapa mewah mal yang berdiri di sana. Pesonanya terletak pada ketulusan caranya merangkul perbedaan. Kota ini menjadi bukti hidup bahwa identitas lokal yang kuat tidak harus luntur atau dikorbankan demi bisa diterima di kancah global. Justru sebaliknya; semakin kuat dan bangga kita memegang akar kebudayaan kita, akan semakin banyak orang luar yang tertarik untuk datang dan mendekat.

Hari ini, ketika ada seseorang dari luar daerah dengan bangga berkata, “Aku kuliah di Purwokerto,” nada bicaranya sudah sepenuhnya berbeda. Ada binar kebanggaan yang terselip di sana. Di dalamnya ada cerita tentang petualangan bersama teman-teman baru dari berbagai penjuru dunia, tentang sebuah bahasa unik yang awalnya terdengar aneh di telinga tapi sekarang justru bikin kangen setengah mati. Purwokerto sudah naik kelas. Dan selama kota ini tetap mempertahankan kehangatannya, selama logat Ngapak tetap lantang terdengar di koridor-koridor kampusnya, maka ia akan terus menjadi kota tujuan utama yang dirindukan, bukan lagi sekadar kota persinggahan. Purwokerto telah mendunia justru karena ia berani jujur menjadi dirinya sendiri.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang