Di sudut pagi yang belum sempurna,
mereka telah berjalan menjemput asa.
Dengan tangan kasar dan peluh yang jatuh,
membangun dunia yang sering lupa menyapa.
Mereka bukan nama di lembar berita,
bukan pula wajah yang terpajang megah.
Namun dari langkah-langkah sederhana,
berdirilah negeri yang tampak gagah.
Ada yang menanam di hamparan sawah,
ada yang mengayuh di jalan berdebu.
Ada yang menjual mimpi di pasar pagi,
demi sebungkus harapan untuk esok yang baru.
Rakyat jelata,
sering dipandang sebagai angka belaka.
Padahal di dada mereka tersimpan keberanian,
yang tak kalah dari para pemegang kuasa.
Ketika hujan datang bersama kesulitan,
mereka tetap berteduh dalam kesabaran.
Ketika hidup terasa begitu berat,
mereka menjawabnya dengan keteguhan.
Wahai rakyat jelata,
engkaulah akar yang menguatkan bangsa.
Meski namamu jarang disebut sejarah,
jasamu akan selalu hidup dalam semesta.
Sebab kemegahan bukan hanya milik istana,
dan kehormatan bukan sekadar mahkota.
Di balik wajah-wajah sederhana itu,
tersimpan kemuliaan rakyat jelata.