Retakan Setelah Hujan

Malam menetes di kaca jendela,

di sela dengung kipas tua

dan detak jam yang kian melambat.


Ada sesuatu yang gugur,

bahkan sebelum sempat bernama,

larut bersama cahaya redup

yang bergetar di sudut ruang.


Di kamar yang nyaris tak berubah,

tubuh ini tetap diam.

Namun di dalamnya,

ada pintu yang terus terbuka,

lupa cara menutup dirinya.


Sebuah nama jatuh seperti hujan pertama,

meresap ke celah-celah ingatan,

mengisi retakan yang tak terlihat,

lalu lenyap—

seakan tak pernah singgah.


Namun yang tertinggal

bukan jejak kepergiannya,

melainkan lembap yang menetap,

seperti aroma tanah

setelah hujan usai.


Waktu mencoba menghapusnya,

setipis embun di ujung pagi.

Tetapi setiap sunyi datang,

ia kembali diam-diam,

berteduh di antara detak

yang berpura-pura lupa.


Maka biarlah aku menjadi tanah,

menerima segala yang jatuh

tanpa menuntut arah pulang.


Dan bila waktu berbaik hati,

biarlah retakan itu mengering,

hingga yang tersisa hanyalah hening—

hening yang tak lagi menyakitkan,

hening yang akhirnya pulang.


Purwokerto, 10 Juni 2026

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang