Rindu yang Tak Pernah Libur

Ada banyak hal yang bisa kutunda.

Tugas kuliah bisa kutunggu hingga malam,

perjalanan pulang bisa kujeda hingga libur semester tiba,

bahkan kelelahan kadang kupaksa diam demi menyelesaikan kewajiban.


Namun satu hal yang tak pernah bisa kutunda,

yaitu rindu.


Ia datang tanpa mengetuk pintu.

Hadir di sela kesibukan yang tampak sewajarnya.

Menjelma menjadi kenangan tentang rumah,

tentang suara ibu yang sederhana namun menenangkan,

tentang canda keluarga yang dulu terasa biasa,

namun kini menjadi sesuatu yang amat berharga.


Menjadi perantau membuatku memahami bahwa jarak bukan hanya soal kilometer.

Jarak adalah ketika aku ingin pulang namun keadaan belum mengizinkan.

Jarak adalah ketika kabar dari rumah hanya bisa kuterima melalui layar smartphone.

Jarak adalah saat ku rayakan pencapaian kecil sendirian,

sementara orang-orang yang paling ingin kupeluk berada nun jauh di sana.


Rindu tidak mengenal kalender.

Ia tidak peduli apakah hari itu hari libur atau hari yang sibuk.

Ia datang saat hujan turun,

saat malam terasa lebih sunyi dari biasanya,

atau saat aku melihat keluarga lain berjalan bersama di jalanan.


Meski begitu, aku tidak membenci rindu.

Sebab dari rindu aku belajar menghargai arti kebersamaan.

Dari rindu aku belajar bahwa rumah bukan sekadar bangunan,

melainkan tempat di mana hati selalu ingin pulang.


Dan selama mimpi masih harus diperjuangkan di tanah rantau,

rindu akan tetap menjadi teman perjalanan.

Ia mungkin tidak pernah libur,

tetapi justru karenanya aku selalu ingat alasan mengapa aku harus bertahan.


Rindu memang tak pernah meminta izin untuk datang, tetapi ia selalu mengingatkan ke mana hati ingin pulang.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang