Salah Prioritas di Awal Kuliah: Gara-Gara Cinlok, Jadi Lupa Prioritas Awal Kuliah?

10 September 2026

Dipublikasikan

Bagikan

Masuk kuliah adalah awal dari perjalanan baru. Banyak mahasiswa baru datang dengan semangat tinggi, membawa mimpi, target, dan harapan untuk berkembang. Kampus menjadi tempat untuk mencari ilmu, menambah pengalaman, membangun relasi, dan menemukan jati diri. Namun, tidak sedikit mahasiswa baru justru salah menentukan prioritas. Salah satunya adalah terlalu cepat menjalin hubungan asmara karena cinlok (cinta lokasi).

Cinlok memang sering terjadi di masa-masa awal kuliah, Berawal dari sering bertemu saat PKKMB, satu kelas, satu kelompok tugas atau kepanitiaan, rasa nyaman perlahan berubah menjadi suka. Awalnya terasa menyenangkan karena ada seseorang yang selalu menemani, mendengarkan cerita, dan membuat proses adaptasi di kampus terasa lebih mudah.

Sayangnya, tidak semua hubungan membawa dampak yang baik. Ada juga hubungan yang justru membuat salah satu pihak membatasi pasangannya berkembang. Misalnya, pasangan mulai melarang ikut organisasi karena takut jarang bertemu, tidak mengizinkan ikut kepanitiaan karena khawatir dekat dengan orang lain, bahkan merasa kesal jika pasangannya lebih sibuk mengejar prestasi daripada menghabiskan waktu bersama.

Kalimat- kalimat seperti “Ngapain ikut organisasi? kan capek”, “Udah sama aku aja, nggak usah ikut kepanitiaan”, atau “Kamu lebih pilih organisasi daripada aku?” mungkin terdengar sepele. Namun, jika terus diucapkan lama kelamaan bisa membuat seseorang mengurungkan niat untuk mencoba hal-hal baru. Padahal, kesempatan menjadi pengurus organisasi, mengikuti lomba, atau aktif dalam kegiatan kampus adalah pengalaman yang sangat berharga dan belum tentu bisa diulang.  

Hubungan yang seperti ini tanpa disadari membuat seseorang kehilangan banyak kesempatan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, memperluas pertemanan, mengikuti seminar, atau mengembangkan kemampuan diri justru habis untuk memenuhi ego pasangan. Akhirnya dunia terasa hanya berputar di sekitar hubungan tersebut. 

Ironisnya, ketika hubungan itu berakhir yang tersisa bukan hanya rasa sedih karena putus. Banyak yang mulai menyadari bahwa mereka sudah melewatkan begitu banyak kesempatan. Teman-teman sudah memiliki pengalaman organisasi, jaringan pertemanan yang luas, bahkan prestasi yang membanggakan. Sementara dirinya hanya menyimpan kenangan yang pada akhirnya tidak bertahan lama. Padahal, pasangan yang baik seharusnya bukan orang yang membatasi langkah kita, melainkan yang mendukung kita untuk berkembang. Jika benar-benar sayang, seharusnya ia bangga melihat pasangannya aktif, berprestasi, dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Hubungan yang sehat bukan tentang selalu bersama setiap saat, tetapi tentang saling percaya, saling mendukung, dan bertumbuh bersama.

Bukan berarti mahasiswa tidak boleh jatuh cinta, perasaan suka adalah hal yang sangat wajar. Namun, jangan sampai rasa cinta membuat kita lupa tujuan utama datang ke kampus. Kuliah adalah investasi untuk masa depan. Organisasi, kepanitiaan, lomba, pelatihan, dan berbagai pengalaman lain akan memberikan manfaat yang jauh lebih Panjang daripada hubungan yang belum tentu bertahan. Pada akhirnya, pengalaman cinlok yang berujung putus memang bisa menjadi pelajaran berharga. Penyesalan mungkin tidak bisa menjadi pengingat agar ke depan lebih bijak dalam menentukan prioritas. Karena cinta yang baik tidak akan menghalangi seseorang untuk berkembang. Justru cinta yang sehat akan berjalan berdampingan dengan mimpi, prestasi, dan masa depan.

Untuk kalian yang akan menjadi mahasiswa baru, jangan terburu-buru menjadikan seseorang sebagai pusat duniamu. Jadikan kuliah sebagai tempat untuk mengenal dirimu sendiri, memperluas relasi, mencari pengalaman, dan membangun masa depan. Orang yang benar-benar menyayangimu tidak akan memintamu berhenti berkembang, melainkan akan bangga melihatmu bertumbuh.

Ingat, pasangan bisa datang dan pergi, tetapi kesempatan untuk berkembang di masa kuliah tidak akan terulang dua kali. Jangan sampai kamu kehilangan banyak hal hanya demi mempertahankan hubungan yang belum tentu bertahan. Bangun dirimu dulu, kejar mimpimu, kumpulkan pengalaman sebanyak mungkin. Karena suatu hari nanti, kamu akan lebih bangga melihat dirimu berhasil daripada terus menyesali waktu yang pernah terbuang. “Jangan jadikan cinta sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh, sebab orang yang tepat tidak akan menghambat langkahmu menuju masa depan, tetapi akan berjalan di sampingmu sambil mendukung setiap impianmu".

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang