Pagi tumbuh di antara embun yang bening,
mengalir pelan dalam tubuh yang diam-diam bekerja.
Jantung menabuh lagu kehidupan,
paru-paru menenun udara menjadi tenaga.
Kita berjalan tanpa banyak bertanya,
mengira waktu akan selalu setia.
Padahal setiap detik adalah daun yang gugur,
jatuh perlahan dari ranting usia.
Lalu suatu hari, langit tak selalu biru seperti biasanya.
Ada luka yang datang tanpa aba-aba,
ada lelah yang mengajari manusia tentang rapuh dirinya.
Namun dari celah-celah gelap itu,
lahir cahaya kecil yang enggan padam.
Ia tinggal dalam doa-doa yang lirih,
dalam keyakinan bahwa esok masih memiliki nama.
Harapan adalah burung yang tak mengenal sangkar,
tetap terbang meski sayapnya terluka.
Ia mengeja kemungkinan di tengah ketidakpastian,
menanam bunga pada tanah yang hampir kehilangan warna.
Hingga ketika senja terakhir tiba,
dan langkah waktu berhenti di ambang rahasia,
tak ada yang benar-benar dapat menolaknya.
Semua akan pulang pada keheningan yang sama.
Maka sebelum malam itu datang,
biarkan kita hidup dengan sebaik-baiknya menyimpan cinta dalam setiap perjumpaan,
dan menyalakan api harapan dalam setiap keremangan.