Oleh Haidah Nisa
Banyak penulis yang buru-buru ingin langsung rilis karyanya setelah draf pertama selesai diketik. Padahal, naskah yang oke itu adalah naskah yang sudah lolos kurasi internal alias disunting mandiri. Iya, self-editing kuncinya.
Anggaplah self-editing itu sebagai surat cinta penulis kepada pembaca. Kedudukannya seperti sebentuk perhatian lebih atas kesediaan mereka membaca tulisan kita.
Tentu kita tidak ingin pembaca merasa bingung ketika memahami maksud tulisan kita. Selain itu, jika kita berniat mengirimkan naskah ke media, draf yang rapi akan membuat editor di sana betah mengkurasi karya kita.
Jadi, supaya tulisan kita makin enak dibaca, yuk terapkan beberapa taktik self-editing sederhana ini:
4 Rules Biar Kalimat Nggak Bertele-tele
1. Pangkas kalimat yang kepanjangan
Nggak usah membuat kalimat yang panjangnya seperti kereta lintas kota. Pakai kalimat yang pendek-pendek aja. Kalimat pendek itu lebih berenergi dan bikin pembaca nggak kehabisan napas.
Contoh kalimat yang nggak disarankan:
Aku memandanginya dari jauh dan mendapati kalau dia sedang asyik ngupil.
Contoh kalimat yang disarankan:
Aku memandanginya dari jauh. Ternyata dia sedang asyik ngupil.
Taktik: pecah jadi dua kalimat kalau kepanjangan.
2. Eliminasi penyakit "di mana"
Tolong banget, hindari kata "di mana" buat menjelaskan sesuatu. Kata "di mana" itu cuma boleh dipakai buat nanya lokasi.
Kalimat seperti, "keputusan di mana membuat kita...", itu struktur yang rusak akibat korban terjemahan bahasa Inggris mentah-mentah. Ganti pakai kata yang lebih efektif.
Contoh kalimat yang nggak disarankan:
Aku kesal pada kondisi di mana ketulusan tak ada artinya lagi.
Contoh kalimat yang disarankan:
Aku kesal ketika ketulusan tak ada artinya lagi.
Taktik: Ganti kata "di mana" dengan kata hubung yang sesuai dengan konteks kalimatnya, seperti "ketika", "saat", "bahwa", atau "tempat".
3. Pilih kalimat aktif daripada pasif
Kalimat aktif bisa lebih hidup dan dinamis dibanding kalimat pasif. Narasi yang kita bangun akan terasa lebih bergerak.
Kita bisa menggunakan kalimat aktif seperti ini:
Dia meneliti grafik IHSG.
Hindari penggunaan kalimat pasif seperti ini:
Grafik IHSG diteliti oleh dia.
Taktik: Temukan subjeknya dulu, lalu tulis di paling depan.
4. Kalibrasi dengan KBBI dan PUEBI
Mau nggak mau, kita tetap harus rajin cek kamus. Supaya gaya tulisan terasa santai, tapi secara struktur tetap kelihatan pintar dan profesional.
Selain taktik empat rules di atas, ada beberapa typo yang paling sering ditemukan pada tulisan, seperti berikut:
- Spasi pada kata "di"
Ini penyakit klasik. Yuk, kita ingat rumusnya. Kalau menunjukkan tempat, dipisah (di mana, di lapangan). Kalau kata kerja, digabung (dibaca, ditulis).
Tips mudah untuk mengingatnya, hafalkan kalimat ini: kau dan dia disatukan di altar itu.
- Amnesia istilah asing
Kosakata asing atau bahasa daerah wajib hukumnya dicetak miring (italic).
- Kata mubazir
Hati-hati sama penumpukan kata seperti: 'demi untuk', 'sejak dari', 'banyak para', dan sebagainya. Pilih salah satu saja supaya efisien.
Tips tambahan buat menemukan kalimat janggal
1. Endapkan naskah
Jangan langsung menyunting naskah sesaat setelah menulis. Otak kita masih bias. Sebaiknya diamkan dulu draf tersebut selama 2-3 hari, baru baca lagi.
Setelah otak sudah segar, kita akan lebih gampang menemukan kejanggalan.
2. Baca dengan keras
Coba baca tulisan kita sendiri dengan suara keras. Telinga kita itu detektor yang bagus banget buat menemukan ritme kalimat yang patah atau kata yang diulang-ulang.
3. Posisikan diri jadi pembaca
Ketika menyunting, lepaskan ego kita sebagai penulis. Berlakulah sebagai pembaca asing yang kritis dan nggak tahu apa-apa tentang isi kepala kita. Objektif aja.
4. Jangan buang "rasa" tulisan
Ingat, self-editing itu tujuannya merapikan, bukan membantai keunikan tulisan kita. Jangan kebanyakan memotong kalimat sampai gaya khas (writer's voice) kita malah hilang.
Ya, begitulah kira-kira cara kita mencintai naskah. Melalui cara tersebut, kita bisa menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada pembaca kita.