Dalam sepuluh tahun terakhir, seblak telah bertransformasi dari sekadar makanan kaki lima khas Jawa Barat menjadi sebuah fenomena budaya yang digemari generasi muda, khususnya perempuan. Bagi mereka, semangkuk seblak kuah merah beraroma kencur bukan lagi sekadar pengisi perut, melainkan sarana pelarian cepat ketika stres melanda.
Namun, di balik statusnya sebagai “penyelamat” kesehatan mental, konsumsi seblak secara berlebihan menyimpan risiko kesehatan fisik yang tidak boleh diabaikan. Keterikatan emosional perempuan dengan seblak dapat dijelaskan secara ilmiah. Ketika menghadapi tekanan tugas atau kelelahan emosional, tubuh secara naluriah mencari makanan yang memberi kenyamanan (comfort food). Rasa pedas cabai pada seblak memicu otak melepaskan hormon endorfin, menghasilkan sensasi lega, relaks, dan bahagia setelah sensasi terbakar di lidah mulai mereda. Inilah “rasa tersiksa yang menyenangkan” yang dicari karena mampu mengalihkan fokus dari beban pikiran yang menumpuk.
Selain efek tersebut, seblak juga memberikan kepuasan mekanis lewat tekstur beragam isinya. Komponen kenyal seperti kerupuk basah, makaroni, mie, atau ceker ayam menuntut mengunyah lebih lama. Secara tidak sadar, proses mengunyah ini menjadi saluran pelepasan ketegangan dan kemarahan yang tertahan. Tambahan lagi, warung seblak sering berfungsi sebagai ruang aman (safe space) bagi remaja perempuan untuk berkumpul, tampil apa adanya, dan saling berbagi keluh kesah bersama sahabat.
Namun, menjadikan seblak sebagai pelarian utama setiap kali hari buruk merupakan kebiasaan yang berbahaya bagi tubuh. Dari segi anatomi, semangkuk seblak didominasi karbohidrat olahan dengan kandungan serat dan vitamin yang sangat rendah. Ancaman terbesar terletak pada kuah pekatnya yang kaya natrium (garam) dan bumbu penyedap. Dalam jangka pendek, konsumsi berlebihan dapat memicu naiknya asam lambung, perut kembung, hingga diare; sementara jangka panjang dapat meningkatkan risiko obesitas dan gangguan pencernaan kronis.
Akhirnya, menikmati seblak sebagai cara melepas penat memang wajar demi menjaga keseimbangan psikologis setelah aktivitas seharian. Namun, kedewasaan berpikir menuntut kita tetap bijak dalam membatasi konsumsinya agar tidak berlebihan. Seblak sebaiknya diperlakukan sebagai hadiah sesekali (self‑reward) atas kerja keras, bukan menu harian yang tak terkontrol. Pada akhirnya, kesehatan mental yang stabil hanya dapat dirasakan sepenuhnya bila tubuh tetap sehat dan kuat.