Seni Bertahan Hidup Di Tanggal Tua

Bagi Gen Z, hidup adalah tentang keseimbangan antara menjaga mental health dan mempertahankan aesthetic. Namun, keseimbangan ini terancam runtuh setiap kali kalender memasuki fase krusial yaitu tanggal 25 ke atas. Fenomena ini sering disebut dengan istilah tanggal tua. Jika para ekonom dunia sibuk memikirkan inflasi global, kaum mahasiswa justru menghadapi ancaman yang jauh lebih nyata dan mengerikan yakni isi dompet akhir bulan. Fenomena ini ditandai dengan penurunan keuangan yang menyentuh angka terendah, dimana yang tersisa hanya dua lembar uang dua ribuan dan beberapa koin yang berserakan di dasar tas, keresek bekas belanja, saku celana, bahkan sampai ke kolong kasur pun kami cari. Dalam kondisi normal, manusia mengonsumsi makanan berdasarkan selera dan gizi. Namun, ketika isi dompet menyusut hingga ke level kritis alias tekanan tanggal tua, mie instan dan telur bertransformasi dari sekedar makanan cepat saji menjadi komoditas penyelamat umat. Makanan tidak lagi dilihat dari rasa, melainakan dari seberapa cukup uang yang tersisa untuk bertahan hidup sampai awal bulan mendatang. Bertahan hidup di tanggal tua bukan hanya soal fisik, tapi juga soal menjaga harga diri di media sosial. Di sinilah teknik branding kemiskinan structural menjadi sangat krusial. Ketika ditanya teman kenapa tidak ikut nongkrong di café, subjek akan mejawab “gua lagi mau nyoba spiritual fasting selama seminggu”. Padahal, aslinya itu adalah puasa paksa demi menyelamatkan sisa jatah bulanan. Di sini tanggal tua berperan sebagai laboratorium kehidupan terbaik untuk menguji mental manusia. Melalui kombinasi mie instan, telor goreng, diet spiritual palsu, dan pencarian koin di kolong Kasur, manusia membuktikan bahwa mereka bisa melampaui hukum-hukum ekonomi modern. Pada akhirnya, dompet yang kosong di akhir bulan memberikan satu pelajaran berharga bahwa sekaya apapun kita di awal bulan, kita akan kembali mejadi hamba sahaya yang menghitung hari demi hari demi melihat notifikasi “Transfer Masuk” di layar ponsel.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang