SURAT UNTUK PEMINJAM BUKU

10 September 2026

Dipublikasikan

Bagikan

Perpustakaan kampus menjadi salah satu tempat favorit Arania. Di sela-sela jadwal kuliah yang padat, ia lebih sering menghabiskan waktu di sana daripada di kafe sekitar kampus. Baginya, suasana tenang di antara rak-rak buku jauh lebih nyaman untuk membaca atau sekadar melepas penat.


Suatu sore, Arania meminjam sebuah novel dari perpustakaan. Saat membuka halaman pertama, ia menemukan secarik kertas kecil yang terselip di dalamnya.


"Menurutku, bagian terbaik dari cerita ini adalah ketika tokohnya belajar menerima kenyataan, bukan terus memaksakan harapan."


Arania tersenyum. Ia mengira catatan itu milik mahasiswa yang lupa mengambilnya. Sebelum mengembalikan buku tersebut, ia menambahkan balasan di bawah tulisan itu.


"Kalau menurutku, menerima memang penting. Tapi tidak ada salahnya tetap berharap selama tahu batasnya."


Ia menyelipkan kembali kertas itu di halaman semula.


Seminggu kemudian, saat meminjam buku lain, Arania kembali menemukan secarik kertas dengan tulisan yang sama.


"Pendapatmu masuk akal. Kadang kita memang terlalu cepat menyerah."


Sejak saat itu, mereka mulai bertukar pesan melalui buku-buku yang dipinjam dari perpustakaan. Mereka tidak pernah menuliskan nama. Isi surat mereka pun sederhana, mulai dari buku yang sedang dibaca, tugas kuliah yang menumpuk, hingga keresahan menghadapi masa depan setelah lulus.


Suatu hari, orang misterius itu menulis,


"Aku sering merasa belum melakukan apa-apa selama kuliah."


Arania membalas,


"Mungkin kita hanya terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain."


Percakapan singkat itu terus berlanjut selama beberapa minggu. Bagi Arania, menemukan balasan di dalam buku perlahan menjadi hal yang menyenangkan.


Hingga suatu hari, ia membaca pesan yang berbeda.


"Mungkin ini surat terakhirku."


Arania sempat terdiam. Ia menuliskan pertanyaan singkat.


"Kenapa?"


Balasan baru datang beberapa hari kemudian.


"Aku diterima program pertukaran mahasiswa di luar kota. Minggu depan sudah berangkat."


Arania ikut senang, meski sedikit kecewa karena kebiasaan mereka akan berakhir.


Beberapa hari setelahnya, ia menemukan satu surat terakhir.


"Kalau kamu ingin tahu siapa aku, aku akan mengembalikan buku ini hari Jumat sore."


Hari Jumat, Arania datang ke perpustakaan setelah kelas selesai. Ia duduk di meja dekat rak novel sambil membawa buku yang sama.


Tak lama kemudian, seseorang datang menghampirinya.


"Ternyata benar kamu yang membalas semua surat itu," ucapnya sambil tersenyum.


Arania langsung mengenali wajahnya.


Sagara.


Mahasiswa tingkat yang sama, yang beberapa kali ia lihat di perpustakaan dan sesekali bertemu saat kegiatan klub literasi kampus.


"Aku sempat curiga, tapi tidak pernah benar-benar yakin," kata Arania sambil tertawa kecil.


Sagara mengangguk.


"Aku sengaja tidak menulis nama. Rasanya lebih mudah bercerita dengan cara seperti itu."


Mereka mengobrol cukup lama sore itu. Tidak ada momen yang berlebihan, hanya percakapan ringan tentang buku favorit, tugas akhir yang mulai dipikirkan, dan rencana setelah lulus.


Sebelum pulang, Sagara menyerahkan sebuah novel.


"Aku rasa buku ini bakal kamu suka," katanya.


Di halaman pertama terdapat sebuah catatan singkat.


"Terima kasih sudah menjadi teman diskusi yang menyenangkan. Semoga lain kali kita tidak perlu saling berkirim surat lewat buku lagi."


Arania tersenyum sambil menutup novel itu.


Terkadang, pertemanan yang baik memang bisa berawal dari hal-hal sederhana. Dalam kasus mereka, semuanya dimulai dari selembar kertas yang tanpa sengaja tertinggal di antara halaman sebuah buku perpustakaan.

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang