Tradisi Rewang Saat Hajatan: Warga Desa khususnya di Jawa Tengah.

10 September 2026

Dipublikasikan

Bagikan

Version:1.0 StartHTML:0000000156 EndHTML:0000036916 StartFragment:0000000469 EndFragment:0000036908

Masyarakat di desa khususnya Jawa Tengah memiliki kehidupan sosial yang sangat erat, rukun dan penuh rasa kekeluargaan. Didalam kehidupanya warga desa masih menjaga berbagai tradisi yang di wariskan secara turun temurun. Salah satu tradisi yang masih sering kita jumpai dan masih sering di lakukan adalah tradisi rewang saat hajatan. Hajatan dapat berupa nikahan atau khitanan, syukuran, slametan dan acara besar lainya. Tradisi atau kebiasaan ini menjadi bukti bahwa masyarakat desa khususnya Jawa Jengah masih menjujung tinggi nilai gotong royong dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Rewang adalah kegiatan membantutuan rumah yang sedang mengadakan acara tanpa meminta imbalan. Biasanya tetangga, saudara dan warga sekitar datang ke rumh yang punya acara sebelum.Kaum ibu-ibu biasanya membantu memasak di dapur, sampai menyajikan hidangan untuk tamu. Sementara itu kaum laki-laki membantu mendirikan tenda, mengangkat kursi dan meja, dan menata temlat acara. Semua pekerjaan dilakukan bersama-sama dengan penuh rasa semangat dan rasa ikhlas.

Tradisi rewang bukan hanya sekedar membantu pekerjaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antar warga desa. Dimana saat rewang, masyarakat dapat berkumpul, bercanda, berbincang dan saling mengenal lebih dekat. Suasa hangat dan penuh rasa kekeluargaan membuat hubungan sosial di desa semakin harmonis. Tidak jarang kegiatan rewang berlangsung hingga malam hari sambil diselingi cerita dan canda tawa. Hal ini menjadi masyarakat desa merasa lebih dekat satu dan yang lain.


Selain mempererat hubungan sosial, tradisi rewang juga mengajarkan nilai kepedulian dan tolong menolong. Ketika seseorang membantu tetangga yang sedang hajatan, maka suatu saat ia juga akan mendapatkan bantuan yang sama ketika mengadakan acara. Sikap ini mencerminkan semangat gotong royong yang sudah diwariskan sejak dulu. Oleh karena itu masyarakat desa biasanya memiliki rasa solidaritas yang tinggi, dan peduli terhadap keadaan tetangga.

Di desa-desa khususnya Jawa Tengah, tradisi rewang biasanya dilakukan secara sukarela tanpa adanya paksaan. Warta datang dengan kesadaran sendiri karena merasa bahwa membantu tetangga adalah bagian dari kehidupan bermasyarakat. Ketika ada warga yang tidak bisa ikut membantu tanpa alasan yang jelas, biasanya akan dianggap kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Hak ini menunjukan bahwa budaya kebersamaan masih sangat kental.

Namun di era modern seperti sekarang tradisi rewang mulai mengalami perubahan. Disebagian daerah masyarakat lebih memilih jasa ketring untuk menyiapkan hajatan karena dianggap lebih praktis. Walau demikian, di banyak desa khususnya jawa tengah tradisi ini masih tetap di pertahankan karena dianggap sebagai bagian penting dari budaya dan identitas masyarakat desa.

Dengan demikian, tradisi rewang merupakan kebiasaan baik masyarakat desa khususnya Jawa Tengah yang memiliki banyak manfaat. Tradisi ini mengajarkan kerjasama, kepedulian sosial, rasa tanggung jawan dan persaudaraan. Budaya atau tradisi rewang juga menjadi simbol kuatnya nilai gotong royong dalam kehiduapn masyarakat desa. Oleh sebab itu, tradisi rewang perlu dijaga dan dilestarikan agar nilai kebersamaan tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Biodata penulis

Pandu Firmansyah lahir di Purbalingga, 25 Desember 2006. Ia merupakan mahasiswa UIN Saizu Purwokerto yang memiliki hobi bermain sepak bola, berenang dan eksplor alam. Selain aktif dalam dunia olahraga, ia juga tertarik dalam menulis sebagai cara untuk mengekspresikan ide, pengalaman, dan perasaannya melalui karya yang bermanfaat dan mudah dipahami banyak orang.


Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang