TREMAS YANG BERDIAM DI DADA

Kami adalah beberapa anak muda

yang pernah dipertemukan oleh takdir

di sebuah lembah kenangan bernama Tremas


Datang dari kota-kota yang berjauhan

membawa logat yang berbeda,

membawa rindu yang sama,

lalu belajar hidup bersama,

di bawah langit yang setiap malam

dipenuhi doa yang melangit diam-diam


Di Tremas.

Hari-hari tumbuh seperti halaman kitab yang dibuka perlahan


ada suara langkah menuju masjid setelah subuh tiba

ada kantuk yang disembunyikan di balik pelajaran

ada tawa yang pecah di sela-sela kesibukan, dan

ada persahabatan yang lahir tanpa pernah direncanakan


Saat itu kami mengira waktu akan berjalan lambat,

bahwa lorong-lorong asrama

akan selamanya menggemakan usia muda kami,

dan percakapan yang kami titipkan pada malam

tak akan pernah benar-benar selesai


Namun

waktu ternyata lebih pandai dari dugaan kami

ia melipat satu demi satu hari,

menyimpannya kedalam saku masa lalu.

hingga tanpa terasa

kami berdiri di ujung perpisahan


Kini tremas mungkin masih sama


Panggilan-panggilan langit masih menggema dari masjidnya

halaman-halaman kitab masih dibuka dengan penuh takzim,

dan angin masih berkelana di antara jejak-jejak

yang pernah menjadi rumah kami


Namun kami tidak lagi di sana


Kadang, ketika malam telah sunyi

aku mendengar kembali suara tawa itu

bukan dari kejauhan,

melainkan dari ruang kenangan yang tak pernah benar-benar tertutup


Dan setiap kali nama Tremas disebut,


Bukan sekedar rindu pada sebuah tempat,

melainkan rindu kepada masa

masih duduk di bawah langit yang sama

masih percaya bahwa kebersamaan

tidak akan mengenal kata selesai


Tetapi hidup mengajarkan hal yang berbeda

bahwa setiap pertemuan memiliki musimnya

bahwa kebersamaan memiliki batas waktunya

Ada cerita atau sekadar ingin berbagi?

Ruang Literasi Brebesan terbuka untuk siapa saja yang ingin berbagi pengalaman, opini ringan, atau cerita sehari-hari. Mari merawat nalar bersama.

Tulis Sekarang